Tim tanggap darurat langsung bergerak cepat. Mereka mendokumentasikan kerusakan, berkoordinasi, lalu membersihkan puing-puing atap yang berantakan. Sebagai langkah sementara, mereka memasang terpal untuk menutupi bagian yang bocor.
Namun begitu, ini bukan solusi permanen. Dimas menegaskan perlunya tindak lanjut dari dinas terkait. Kekhawatiran utamanya adalah kerusakan bisa meluas. Bayangkan saja, kayu-kayu lain di rumah itu juga sudah rapuh, sementara atap asbesnya terlihat miring dan tak stabil.
"Kondisi rumah tidak layak huni, kayu-kayu keseluruhan pun dikhawatirkan ambruk, karena sudah pada rapuh," ujarnya.
Untungnya, tak ada korban jiwa atau luka-luka dalam peristiwa ini. Keluarga pemilik rumah memilih untuk menyelamatkan diri. Sebagian ada yang bertahan di kamar depan yang masih tersisa, sementara lainnya mengungsi ke rumah anak mereka. Mereka enggan tinggal di tempat yang sama, waswas jika bencana susulan terjadi.
Rumah itu kini sepi, hanya menyisakan kenangan dan kayu-kayu yang keropos. Menunggu perbaikan yang tak tahu kapan datangnya.
Artikel Terkait
MLKI Kirim Surat Tegas ke Prabowo: Tolak Polri Masuk Kementerian
TNI AD Klarifikasi Keributan Bhabinsa dan Pedagang Es Kue: Cuma Salah Paham
Polisi Turun ke Pantai Tebing Tinggi, Lima Karung Sampah Plastik Berhasil Dunguti
Dari Nelayan ke Pemberdaya: Kisah Tika Wulandari yang Mengubah Nasib Keluarga dan Nelayan Sekampung