29 Desa di Aceh dan Sumut Hilang Ditelan Banjir dan Longsor

- Selasa, 27 Januari 2026 | 16:05 WIB
29 Desa di Aceh dan Sumut Hilang Ditelan Banjir dan Longsor

Kompleks parlemen di Senayan menjadi saksi pernyataan mengejutkan dari Menteri Desa dan PDT, Yandri Susanto. Dalam rapat bersama Komisi V DPR dan mitra kerja, Selasa (27/1) lalu, ia mengungkap fakta pilu: sebanyak 29 desa di Aceh dan Sumatera Utara hilang begitu saja. Penyebabnya? Banjir dan tanah longsor yang ganas.

Menurut Yandri, bencana itu tak cuma merusak. Ia menghapus peta. Beberapa desa bahkan berubah wujud menjadi alur sungai baru, tersapu oleh air yang mengamuk. Wilayah kerja, sarana prasarana pemerintahan, hingga layanan publik di tempat-tempat itu lenyap total.

"Desa-desanya ada yang menjadi sungai. Jadi banyak desa yang selama ini ada di sempadan sungai, ketika banjir, sungai pindah ke desa itu. Jadi desanya benar-benar hilang,"

Ucapnya dengan nada berat. Situasinya memang rumit. Di satu sisi, wilayahnya musnah. Namun begitu, penduduknya masih ada. Mereka, termasuk para kepala desa dan perangkatnya, kini tercatat sebagai pengungsi yang kehilangan tanah kelahiran.

"Tapi penduduknya, termasuk kepala desanya dan perangkat lainnya tetap ada, mengungsi. Jadi ini mungkin yang PR terberat di kami,"

Data per 12 Januari 2026 membeberkan rincian yang memilukan. Dari total 29 desa yang hilang itu, 21 di antaranya berada di Aceh. Delapan sisanya tersebar di Sumatera Utara, mencakup enam kabupaten dan kota.

Yandri kembali menegaskan kondisi tragis tersebut. Beberapa desa tertimbun lumpur tebal. Yang lain, seperti sudah disebutkan, berubah menjadi bagian dari sungai. Bangunan, prasarana, semuanya raib tanpa bekas. Hilang.

Ini bukan sekadar angka statistik. Ini tentang komunitas yang tergusur, tentang tanah yang berubah wujud oleh amukan alam. Tantangan pemulihannya, seperti diakui Yandri, sungguh luar biasa berat.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler