Secara teknis, ke-169 taruna Akpol itu dibagi ke dalam empat sub-satgas. Pekerjaan mereka mencakup dua aspek besar. Pertama, sasaran fisik. Ini meliputi normalisasi jalan dari material longsor, perbaikan akses desa dan jembatan, pembersihan permukiman warga dari kayu dan lumpur, serta bantuan rekonstruksi untuk rumah, sekolah, dan rumah ibadah yang rusak.
Di sisi lain, ada juga sasaran nonfisik yang tak kalah penting. Di titik ini, para taruna akan terlibat dalam trauma healing bagi korban, pengelolaan dapur umum lengkap dengan edukasi gizinya, hingga pelayanan kesehatan dan penyuluhan sanitasi. Mereka juga akan mengedukasi anak-anak untuk menjaga semangat belajar pascabencana.
Pada intinya, seluruh rangkaian ini diarahkan untuk satu hal: mempercepat pemulihan. Bukan cuma infrastruktur, tapi juga kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan cara ini, Polri berharap bisa memperkuat kepercayaan publik, menunjukkan bahwa institusi ini bisa adaptif dan responsif saat rakyat paling membutuhkan.
Kehadiran para taruna di Aceh Tamiang ini lebih dari sekadar angka. Ini adalah manifestasi nyata semangat pengabdian. Bahwa Polri tak hanya hadir untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk memulihkan, melayani, dan menghangatkan kembali harapan di tengah reruntuhan.
Artikel Terkait
Anggaran Riset Pertanian Menyusut, Inovasi Mandek di Rak Laboratorium
Jakarta Tenggelam: 45 RT dan Sejumlah Jalan Masih Terendam Banjir
Kanopi Terbang Lumpuhkan KRL Solo-Jogja, Ribuan Penumpang Terdampak
Rumah Bergeser, Pohon Tumbang: Mencekamnya Tanah Bergerak di Pekalongan