Kawasan Pejaten Timur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, masih terendam. Air belum juga surut sepenuhnya. Di RT 16 RW 08, sejumlah rumah warga masih terendam banjir, membuat penghuninya tak bisa pulang.
Masalahnya, mereka juga tak punya tempat untuk mengungsi. Akhirnya, sebagian memilih menginap di rumah saudara atau kerabat terdekat. Tapi tidak semua punya opsi itu. Ada yang terpaksa berteduh di emperan toko, menjadikan trotoar sebagai tempat tinggal sementara.
Seperti Mujinten (61), seorang lansia asal Klaten yang sudah dua puluh tahun lebih ngontrak di sini. Dia dan beberapa tetangganya terdampar di emperan sebuah kios, tak jauh dari rumah kontrakannya yang kebanjiran.
“Hari Kamis jam 12 malam air datang, kita langsung buru-buru lari. Anak saya, saya ungsiin ke teman saya di atas sono,”
ceritanya saat ditemui Sabtu lalu. Mereka sudah mengungsi sejak Kamis malam, tidur beralaskan kardus dan tikar plastik tipis.
Saat air datang menerjang, semuanya berlangsung panik. Tak ada waktu menyelamatkan barang berharga. Bahkan untuk pakaian ganti pun, nyaris tak sempat dibawa.
“Kita lari di sini, cuman membawa baju ya ini satu yang dipakai ini saja,” ucap Mujinten.
“Untung alhamdulillah Ibu Haji ini juga orang cakep, kita tumpangin juga nggak apa-apa, boleh-boleh aja,” lanjutnya, bersyukur masih ada pemilik kios yang mengizinkan mereka berteduh.
Namun begitu, kondisi seperti ini sebenarnya bukan pengalaman pertama. Menurut Mujinten, dalam banjir-banjir sebelumnya pun, bantuan seperti tenda atau tempat tidur darurat nyaris tak pernah datang.
“Belum ada itu (tenda). Belum ada dari dulu kayaknya,” ujarnya dengan nada pasrah.
Artikel Terkait
Pihak Berwenang Tegaskan Pasokan BBM di Karimun Aman, Masyarakat Diminta Tenang
KPK Tetapkan Bupati Rejang Lebong dan Empat Lainnya Tersangka Suap Proyek
Pemerintah Utamakan Jalan Damai untuk Selesaikan Sengketa PRT dalam RUU PPRT
Pengadilan Tolak Praperadilan Yaqut Cholil Qoumas Terhadap KPK