Rupanya, banyak warga yang rumahnya kebanjiran memilih membeli makanan jadi. Purwanto menduga, mereka tak sempat atau tak bisa memasak sendiri di rumah. “Karena banjir, orang-orang kebanjiran. Mungkin karena nggak masak,” ucapnya sambil tersenyum.
Lapak sederhananya itu ramai sejak siang. Pembeli berdatangan, sering kali sekeluarga sekaligus. “Tadi penuh. Datangnya bareng-bareng sekeluarga,” tuturnya.
Angkanya pun melonjak drastis. Biasanya, dalam sehari ia hanya menjual 80 sampai 100 mangkuk bakso. Tapi di hari banjir itu, penjualannya nyaris dua kali lipat. “Hari ini sudah hampir 200-an,” akunya.
Purwanto berjualan rutin setiap hari dari pukul sepuluh pagi sampai sembilan malam. Ia sudah terbiasa dengan ritme tahunan ini. Banjir besar datang setahun sekali, sementara hujan biasa tak sampai menyebabkan genangan parah. “Kalau hujan biasa mah nggak sampai banjir gede,” imbuhnya, menerangkan situasi yang sudah ia jalani bertahun-tahun.
Artikel Terkait
Rumah Bergeser, Pohon Tumbang: Mencekamnya Tanah Bergerak di Pekalongan
Kapolda Metro Jaya Turun Langsung, Bantuan Polri Dikirim ke Titik Banjir Bekasi
Situ Citongtut Berubah Kelam, Ikan Mati Bergeletakan di Permukaan Air
Telur Mentah dan Jagung Belum Dimasak Lagi-lagi Jadi Menu Makanan Bergizi di SMA Lebak