Trump Sebut Pasukan Inggris Di Belakang, London Murka

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 10:55 WIB
Trump Sebut Pasukan Inggris Di Belakang, London Murka

Komentar terbaru Donald Trump soal kontribusi militer Inggris di Afghanistan memantik reaksi keras dari pemerintah London. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News Kamis lalu, mantan presiden AS itu menyebut pasukan NATO, termasuk Inggris, "agak di belakang" dan tidak bertempur di garis depan.

Padahal, faktanya sama sekali berbeda. Menurut sejumlah saksi dan catatan sejarah, setelah serangan 11 September 2001, Inggris justru termasuk sekutu pertama yang bergabung dengan AS di Afghanistan. Mereka turun langsung ke medan perang, bukan cuma duduk di belakang. Lebih dari 450 tentara Inggris kehilangan nyawa dalam konflik panjang itu.

Trump tampaknya melupakan angka itu. Atau mungkin tak pernah tahu.

"Mereka akan bilang mereka mengirim pasukan ke Afghanistan," ujar Trump dalam wawancaranya.

"Dan memang benar, mereka agak di belakang, sedikit di luar garis depan," tambahnya.

Tak cuma itu, dia juga mengulang klaim lamanya bahwa NATO takkan membantu Amerika jika diperlukan. Pernyataan ini, seperti yang sebelumnya, langsung menuai kritik.

Inggris jelas tersinggung. Menteri Kesehatan Stephen Kinnock menyebut Perdana Menteri Keir Starmer pasti akan membahas hal ini dengan Trump. Rasa bangga pada angkatan bersenjata menjadi harga diri yang tak bisa diabaikan.

"Saya pikir dia pasti akan mengangkat masalah ini dengan presiden..." kata Kinnock kepada Radio LBC.

"Dia sangat banggu dengan angkatan bersenjata kita, dan dia akan menjelaskan hal itu kepada presiden," tegasnya.

Memang, korban jiwa di Afghanistan bukan cuma dari AS atau Inggris. Pasukan dari sekutu NATO lain seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Denmark juga banyak yang gugur. Perang itu, pada akhirnya, menjadi pengorbanan kolektif yang pahit. Dan komentar Trump, bagi banyak pihak di Inggris, terasa seperti menginjak-injak pengorbanan itu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler