Kamis lalu, suasana di Brussels tegang. Dua puluh tujuh pemimpin Uni Eropa berkumpul, dan agenda utamanya cuma satu: mendinginkan hubungan dengan Donald Trump. Ancaman presiden AS itu soal tarif impor 10 persen untuk sejumlah negara Eropa benar-benar mengguncang koridor-koridor politik di sana.
Negara-negara seperti Jerman, Prancis, hingga Inggris disebut-sebut sebagai target. Latar belakangnya? Dukungan mereka terhadap Denmark dalam persoalan Greenland, yang rupanya menarik minat besar Washington dari sudut pandang geopolitik.
Namun begitu, tekanan itu agak mereda. Sebelum pertemuan Brussels digelar, Trump mencabut ancamannya. Pencabutan itu datang setelah ia mengklaim telah meraih "kerangka kesepakatan masa depan" tentang Greenland dengan Sekjen NATO, Mark Rutte. Pertemuan mereka terjadi di Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Pasca-pertemuan, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen berbicara pada awak media.
"Kami berinteraksi secara aktif dengan Amerika Serikat di berbagai level," ujarnya. "Kami melakukannya dengan tegas, tetapi tidak menimbulkan eskalasi. Kami tahu bahwa kami harus semakin bekerja demi Eropa yang mandiri."
Kalimat "Eropa yang mandiri" itu terdengar kuat. Dan memang, dalam sepekan terakhir, hubungan trans-Atlantik nyaris retak. Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dengan terang-terangan menyoroti perbedaan nilai.
"Cara hidup Eropa tidak sama dengan cara hidup Amerika," tegas Costa. "Di antara sekutu, hubungan seharusnya dikelola dengan rasa hormat."
Meski nada keras terdengar, harapan untuk berdamai belum pupus. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyiratkan hal itu di Brussels.
"Saya punya kesan bahwa banyak orang Amerika merasakan hal yang sama dengan kami," katanya. "Kami tidak bisa membiarkan retaknya aliansi trans-Atlantik. Kami telah membangunnya selama 75 tahun. Ini adalah aliansi politik paling sukses yang pernah ada."
Opsi Balasan yang Masih Menganga
Di balik bahasa diplomatik yang halus, Brussels sejujurnya menyiapkan skenario terburuk. Mereka sempat mempertimbangkan langkah balasan yang sangat keras sebuah "opsi nuklir" dalam perdagangan. Paket tarif balasan senilai €93 miliar dan penggunaan instrumen anti-paksaan (ACI) atau "senjata perdagangan" yang bisa membatasi perusahaan AS di Eropa, sempat dibahas.
"Kami telah mengembangkan langkah-langkah balasan yang mungkin diperlukan. Itu ada di meja. Itu tetap ada di meja," von der Leyen menegaskan, meninggalkan nada ancaman yang terselubung.
Prancis jelas mendukung pendekatan tegas. Presiden Emmanuel Macron berkomentar, "Kami lebih memilih rasa hormat daripada menghadapi perundungan." Sementara Jerman, seperti biasa, lebih berhati-hati. Merz mengatakan Eropa ingin "menghindari eskalasi." Untungnya, untuk saat ini, mereka tak perlu memilih opsi yang paling ekstrem itu.
Misteri di Balik Perubahan Hati Trump
Lantas, apa yang membuat Trump berubah pikiran? Pertanyaan ini mengemuka karena tak ada pertemuan langsung antara dia dengan pimpinan UE di Davos Trump terlambat karena masalah pesawat.
Banyak yang menduga tekanan domestik di AS berperan. Pemilu paruh waktu semakin dekat, dan ancaman tarif sempat menggoyang pasar saham. Faktor-faktor itu mungkin mempengaruhi.
"Semua elemen itu … mungkin juga berperan," akui von der Leyen. "Tapi tanpa ketegasan, respons yang tidak menimbulkan eskalasi, dan kesatuan UE, hal itu tidak akan berhasil."
Para pengamat melihat ada pergeseran sikap. Georgina Wright dari German Marshall Fund menyebutkan, meski para pemimpin UE masih terpecah soal cara terbaik menghadapi Trump, mereka kini sepakat harus siap untuk segala kemungkinan.
"UE memiliki banyak cara untuk menunjukkan kekuatan," katanya.
Greenland: Gimmick atau Ambisi Serius?
Detail "kerangka" kesepakatan Trump-Rutte masih gelap. Namun, garis besarnya diduga adalah renegosiasi perjanjian 1951 antara AS dan Denmark, yang mempermudah penempatan pasukan AS di Greenland. Bahkan, The New York Times melaporkan kemungkinan adanya alih wilayah saat pangkalan dibangun padahal perjanjian lama sudah memberi hak penempatan pasukan tanpa batas.
Seorang diplomat UE yang enggan disebut namanya berbisik skeptis.
"Trump mungkin hanya membuat perjanjian itu agar tidak terlihat buruk ketika dia membatalkan ancamannya," ujarnya pada DW di sela-sela pertemuan.
Apapun penyebabnya, Trump tampak puas saat meninggalkan Eropa. Dalam perjalanan pulang dengan Air Force One, dia menyampaikan optimisme yang tiba-tiba.
"Kita semua akan bekerja sama," katanya kepada wartawan. "Kita akan melakukannya … sebagian dalam kerja sama dengan NATO, yang memang seharusnya begitu."
Krisis mungkin tertunda. Tapi ketegangan itu, rupanya, belum benar-benar hilang.
Artikel Terkait
Jasa Raharja Pastikan Jaminan Penuh bagi Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
Satu Jalur di Stasiun Bekasi Timur Kembali Beroperasi Usai Tabrakan Argo Bromo dan KRL
Tabrakan KRL dan Kereta Argo Bromo di Bekasi Timur, Kapolda Metro Jaya Turun Langsung ke Lokasi
Tiga Atlet Tembus Batas Dua Jam di London Marathon, Cetak Rekor Dunia Baru