Demo Sopir Angkot Bogor: Kalau Angkot Dihapus, Anak Istri Kami Mau Makan Apa?

- Jumat, 23 Januari 2026 | 07:15 WIB
Demo Sopir Angkot Bogor: Kalau Angkot Dihapus, Anak Istri Kami Mau Makan Apa?

Suasana di depan Balai Kota Bogor pada Kamis (22/1) pagi itu ramai dan sedikit mencekam. Ratusan sopir angkutan kota memadati jalan, menyuarakan penolakan mereka. Intinya, mereka geram dengan rencana Pemkot Bogor yang bakal menghapus angkot-angkot tua dari jalanan.

Demonstrasi ini sempat bikin macet di Jalan Ir H Juanda, tepat di depan kantor Wali Kota. Tapi, kemacetan itu nggak berlangsung lama. Menurut keterangan Kapolresta Bogor Kota, Kombes Rio Wahyu Anggoro, situasi akhirnya bisa dikendalikan.

“Alhamdulillah tidak ada pengalihan lalin. Kita lihat lancar semua tadi,” ujar Rio, Kamis kemarin.

Ia menambahkan, para pengunjuk rasa sudah berjanji untuk kooperatif. “Mereka juga sudah berjanji kepada saya, Pak Dandim, agar aspirasi tetap terlaksana, maka kami masukkan ke dalam semua supaya tidak mengganggu aktivitas lalin,” jelasnya.

Untuk mengamankan aksi yang diikuti banyak orang ini, polisi turunkan ratusan personel. Sekitar 780 aparat dikerahkan agar demo berjalan kondusif. Dan memang, setelah angkot-angkot itu dipindahkan ke halaman balai kota, arus lalu lintas perlahan kembali normal. Tidak ada rekayasa lalu lintas yang diterapkan.

Suara Hati dari Sopir Angkot

Lalu, apa sih sebenarnya yang mereka perjuangkan? Inti masalahnya terletak pada kebijakan penghapusan angkot tua. Bagi para sopir, ini bukan sekadar soal kendaraan, tapi nyawa penghidupan keluarga.

“Kita minta kebijakan penghapusan angkot tua itu tidak usah. Kalau dihapus, anak istri kita mau makan apa?” kata Ganda, koordinator aksi, dengan nada tinggi.

Dia menyatakan tuntutan mereka jelas: kalau Pemkot bersikeras menghapus angkot, maka harus ada jaminan pekerjaan pengganti yang layak. “Kalau memang mau dihapus kasih kami pekerjaan yang layak,” tegasnya.

Kekhawatiran lain adalah soal daya tampung program transportasi baru seperti BisKita. Menurut Ganda, lapangan kerja yang ditawarkan tidak akan pernah cukup. Angkot datang dari berbagai penjuru kota dan trayek, berkumpul untuk menyatakan sikap.

“Tidak semua sopir angkot bisa jadi sopir BisKita,” ujarnya.

Dia lalu membeberkan alasannya. “BisKita cuma itungan jari. Sedangkan kami sopir angkot semua ada ratusan orang sampai ribuan. Tidak mungkin BisKita hanya menampung sopir angkot semua sampai ribuan.”

Pernyataan itu menggambarkan betapa kebijakan ini, di mata para sopir, belum memikirkan nasib mereka secara menyeluruh. Demo yang awalnya panas itu akhirnya bubar dengan tenang. Tapi, pertanyaan besarnya tetap menggantung: apa solusi yang akan diambil pemkot untuk menjawab keresahan ratusan keluarga ini?

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar