Kondisi ini, jelas Dadan, membutuhkan pendekatan yang lebih mendalam. Pihaknya tak bisa hanya mengandalkan data yang ada.
"Kita harus turun langsung, mendata ulang hingga ke tingkat RT. Tujuannya satu: memastikan mereka yang membutuhkan benar-benar dapat akses makan bergizi. Ini juga mencakup anak putus sekolah usia 0 sampai 18 tahun," sambungnya.
Lalu, apa solusinya? Dadan mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menangani kelompok yang terlewat ini. Untuk anak putus sekolah, ada skema khusus yang disiapkan.
"Jadi, sebagian dari mereka akan kita arahkan ke Sekolah Rakyat. Nah, bagi yang belum masuk ke sana, kita akan kumpulkan di satu titik tertentu agar mereka tetap mendapat program MBG," papar Dadan.
Upaya ini menunjukkan bahwa di balik program yang masif, tantangan di lapangan selalu ada. Pemerataan bantuan, rupanya, masih harus berjibaku dengan realitas data yang belum sempurna.
Artikel Terkait
Guru SD di Tangsel Diduga Cabuli 16 Murid Laki-laki Sejak 2023
Razia Lawan Arah di Lebak Bulus, Pelaku yang Sempat Murka Akhirnya Minta Maaf
Mahasiswi Ciawi Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Akibat Tekanan Ekonomi
Jaksa Agung Janji Hentikan Kasus Guru Honorer, DPR Desak Imunitas untuk Pendidik