"Sepanjang tahun 2025, kemajuan nyata telah dicapai, dengan sejumlah unit hutan adat yang sedang melalui tahapan penetapan, konsolidasi, verifikasi, hingga penetapan hukum. Untuk menjamin kredibilitas dan kualitas, Indonesia telah menerbitkan Pedoman bagi Calon Verifikator Hutan Adat serta melaksanakan program peningkatan kapasitas di berbagai wilayah," sambungnya.
Di sisi lain, persoalan konflik antara manusia dan satwa liar tak kalah serius. Fokus utama saat ini adalah konflik manusia-gajah di Sumatra. Peta jalan yang disusun punya target ambisius: mengelola 75 persen konflik secara efektif dan memotong risikonya hingga 75 persen juga pada 2030.
Sementara untuk menekan kejahatan satwa liar, langkah-langkah konkret terus digencarkan. Patroli di habitat kritis ditingkatkan, pengawasan di pintu-pintu keluar-masuk negara seperti bandara dan pelabuhan diperketat. Satwa-satwa hasil sitaan perdagangan ilegal pun berusaha dipulangkan ke rumah aslinya.
Kerja sama dengan pihak lain juga digalang. Termasuk dengan platform digital untuk memutus mata rantai perdagangan satwa liar secara online.
"Kami telah menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia untuk mencegah perdagangan ilegal flora dan fauna dilindungi melalui sistem elektronik," ujar Raja Juli Antoni.
Sebagai catatan, The Royal Foundation sendiri adalah lembaga filantropi yang didirikan oleh Pangeran William dan Catherine (Kate Middleton). Lembaga ini aktif mendukung berbagai inisiatif global, mulai dari pelestarian lingkungan, aksi iklim, hingga isu kesehatan mental.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Alasan Pemeriksaan Bupati Digelar di Kudus, Bukan Pati
Polisi Amankan Pengedar Sabu di Jatiuwung, 1,5 Gram Sabu Disita
Foto Duta Besar AS di Ankara Picu Badai Kritik: Gubernur Kolonial atau Sekadar Protokol?
BGN Ungkap Kesenjangan Data Hambat Program Makan Bergizi Gratis