Bamsoet Dukung Prabowo Jajaki Kolaborasi dengan Universitas Top Inggris

- Selasa, 20 Januari 2026 | 10:35 WIB
Bamsoet Dukung Prabowo Jajaki Kolaborasi dengan Universitas Top Inggris

Dukungan datang dari anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang tengah menjajaki kerja sama dengan universitas-universitas terbaik di Inggris. Kolaborasi yang dimaksud adalah dengan perguruan tinggi bergengsi dalam lingkup Russell Group Universities.

Menurut Bamsoet sapaan akrabnya langkah ini strategis. Tujuannya jelas: mendongkrak kualitas sumber daya manusia Indonesia lewat jalur riset, sains, dan teknologi. Ia melihat ini sebagai sebuah terobosan yang berani.

Russell Group sendiri adalah kumpulan 24 universitas paling top di Inggris. Reputasinya di dunia riset tak perlu diragukan lagi. Beberapa nama yang masuk di dalamnya, seperti Oxford, Cambridge, Imperial College London, dan University College London, kerap menduduki puncak-puncak pemeringkatan global. Mereka unggul di berbagai bidang, mulai dari sains, humaniora, hingga hukum dan bisnis.

Fakta menariknya, universitas-universitas ini menjadi tulang punggung riset Inggris. Sekitar dua pertiga riset unggulan negeri itu lahir dari sini, begitu pula dengan lebih dari 60% dana riset kompetitifnya. Wajar kalau mereka jadi rujukan utama di kancah internasional.

“Keputusan Presiden Prabowo yang secara tegas hanya membuka kerja sama dengan universitas papan atas dunia menunjukkan arah kebijakan pendidikan tinggi yang jelas dan berani. Fokus ke universitas top dunia adalah pilihan tepat jika Indonesia ingin melompat jauh dalam pengembangan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi,” ujar Bamsoet.

Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela acara pribadi, tepatnya saat menghadiri wisuda Master Hukum kedua anaknya, Saras Shintya Putri dan Athala Zaki, di King’s College London, Selasa (20/1).

Di sisi lain, Bamsoet memaparkan bahwa kemitraan ini bisa membuka banyak peluang. Mulai dari program gelar ganda, riset bersama, sampai pertukaran dosen dan mahasiswa. Bahkan, ini bisa jadi momentum untuk memperkuat kapasitas laboratorium dan pusat inovasi di dalam negeri.

Memang, kalau melihat data UNESCO, Indonesia masih tertinggal dalam hal rasio peneliti per satu juta penduduk dibandingkan negara-negara OECD. Kerja sama semacam ini dinilai bisa menjadi akselerator untuk mengejar ketertinggalan itu.

“Universitas-universitas anggota Russell Group memiliki keunggulan dalam menghubungkan riset dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri. Pola ini sangat relevan dengan agenda pembangunan nasional Indonesia, termasuk hilirisasi industri, penguatan sektor kesehatan, transisi energi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI),” kata mantan Ketua DPR RI itu.

Namun begitu, Bamsoet tak menampik adanya tantangan. Kolaborasi dengan kampus kelas dunia menuntut kesiapan nyata dari perguruan tinggi lokal. Mulai dari kualitas SDM, infrastruktur riset, sampai budaya akademik. Tanpa fondasi yang kuat, kerja sama berisiko hanya menjadi wacana.

Tantangan lain yang tak kalah serius adalah soal pendanaan. Kolaborasi riset dan pendidikan tinggi butuh komitmen anggaran yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar suntikan dana sesaat.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan sektor swasta menjadi kunci utama. Agar manfaatnya bisa dirasakan secara luas dan tidak hangat-hangat tahi ayam.

“Kalau dikelola dengan serius dan konsisten, kerja sama ini bisa menjadi titik balik pendidikan tinggi Indonesia. Kita tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan, tetapi mulai membangun posisi sebagai bangsa yang kuat di bidang ilmu pengetahuan,” pungkas Bamsoet menutup pembicaraan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar