Memang, kalau melihat data UNESCO, Indonesia masih tertinggal dalam hal rasio peneliti per satu juta penduduk dibandingkan negara-negara OECD. Kerja sama semacam ini dinilai bisa menjadi akselerator untuk mengejar ketertinggalan itu.
“Universitas-universitas anggota Russell Group memiliki keunggulan dalam menghubungkan riset dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri. Pola ini sangat relevan dengan agenda pembangunan nasional Indonesia, termasuk hilirisasi industri, penguatan sektor kesehatan, transisi energi, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI),” kata mantan Ketua DPR RI itu.
Namun begitu, Bamsoet tak menampik adanya tantangan. Kolaborasi dengan kampus kelas dunia menuntut kesiapan nyata dari perguruan tinggi lokal. Mulai dari kualitas SDM, infrastruktur riset, sampai budaya akademik. Tanpa fondasi yang kuat, kerja sama berisiko hanya menjadi wacana.
Tantangan lain yang tak kalah serius adalah soal pendanaan. Kolaborasi riset dan pendidikan tinggi butuh komitmen anggaran yang konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar suntikan dana sesaat.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan sektor swasta menjadi kunci utama. Agar manfaatnya bisa dirasakan secara luas dan tidak hangat-hangat tahi ayam.
“Kalau dikelola dengan serius dan konsisten, kerja sama ini bisa menjadi titik balik pendidikan tinggi Indonesia. Kita tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan, tetapi mulai membangun posisi sebagai bangsa yang kuat di bidang ilmu pengetahuan,” pungkas Bamsoet menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Alasan Pemeriksaan Bupati Digelar di Kudus, Bukan Pati
Polisi Amankan Pengedar Sabu di Jatiuwung, 1,5 Gram Sabu Disita
Foto Duta Besar AS di Ankara Picu Badai Kritik: Gubernur Kolonial atau Sekadar Protokol?
BGN Ungkap Kesenjangan Data Hambat Program Makan Bergizi Gratis