Kekayaan Energi Nusantara di Tengah Perang Perebutan Sumber Daya Global

- Senin, 19 Januari 2026 | 14:20 WIB
Kekayaan Energi Nusantara di Tengah Perang Perebutan Sumber Daya Global

Dunia saat ini benar-benar berantakan. Itu fakta yang dihadapi Indonesia, dan hampir semua negara. Perang di sana-sini terus berkecamuk, sementara di balik layar, negara-negara besar saling sikut demi mengamankan pasokan energi mereka. Situasi ini harus jadi perhatian serius kita. Mengapa? Karena di perut bumi Nusantara ini, tersimpan kekayaan energi yang luar biasa melimpah.

Lihat saja, tatanan norma dan etika global yang dibangun puluhan tahun, seolah runtuh dalam sekejap. Segelintir negara dengan seenaknya menginjak-injak hukum internasional. Lembaga multilateral seperti PBB, yang seharusnya jadi penjaga perdamaian, martabatnya terinjak-injak. Fungsinya hampir tak terdengar lagi.

Prinsip non-intervensi, yang jadi fondasi hubungan antar bangsa, diabaikan begitu saja. Dengan senjata modern di tangan, aksi intervensi militer dilakukan secara arogan. Kedaulatan sebuah negara seakan tak ada artinya.

Nyatanya, kesepakatan internasional itu kini kehilangan taring. Di awal 2026 ini, konflik bersenjata masih menghiasi banyak sudut dunia. Koalisi pimpinan Arab Saudi masih menyerang Yaman. Timur Tengah tetap memanas oleh konflik Israel-Hamas yang tak kunjung padam, meski gencatan senjata sudah disepakati.

Perang Rusia-Ukraina juga masih berlanjut. Bahkan di Asia Tenggara, ketegangan perbatasan masih memicu baku tembak antara Kamboja dan Thailand. Baru-baru ini, Thailand Selatan yang rawan konflik diguncang serangkaian ledakan bom di 11 SPBU dalam waktu hanya 40 menit.

Di sisi lain, benua Afrika seperti tak pernah lepas dari instabilitas. Konflik terus berkobar di wilayah Sahel, Tanduk Afrika, dan Afrika Tengah. Kehadiran militer asing terutama dari negara-negara besar justru sering memperkeruh keadaan. Kehadiran mereka bukan cuma soal misi kemanusiaan, tapi lebih seperti pamer kekuatan dan pembentukan aliansi baru.

Ambil contoh, ketika Rusia, Tiongkok, dan Iran gelar latihan militer gabungan 'Will For Peace 2026' di Afrika Selatan, Amerika Serikat langsung merespons dengan intervensi militer ke Nigeria, dengan dalih memerangi ISIS. Pola yang sama terlihat saat AS mengintervensi Venezuela, sekutu Rusia dan Tiongkok. Dari sini, motifnya jadi jelas: perebutan sumber energi. Negara-negara adidaya itu berlomba mengamankan cadangan untuk kebutuhan mereka sendiri.

Setelah menyerang dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di awal Januari 2026, AS dengan terang-terangan menyatakan telah mengamankan cadangan minyak Venezuela yang mencapai 303 miliar barel. Mereka mengambil alih kendali produksi dan penjualannya.

Pemerintahan transisi Venezuela, kata AS, bahkan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak mentah kepada mereka.

Melihat motif itu, wajar jika Indonesia harus ekstra waspada. Cadangan energi kita, baik fosil maupun terbarukan, sangat melimpah. Dalam situasi global yang kacau balau ini, kebijakan politik luar negeri dan hubungan bilateral harus benar-benar mempertimbangkan aspek pengamanan kekayaan nasional kita. Kisah Venezuela jadi pelajaran yang pahit. Tiongkok, sebagai pembeli terbesar minyak Venezuela, jelas dirugikan setelah AS mengambil alih. Begitulah kerasnya persaingan antar raksasa dunia.

Dengan potensi sebesar itu, pasti banyak negara yang berminat menggarap sumber energi di Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga lepas pantai. Kita terbuka untuk kemitraan, mengingat keterbatasan dana dan teknologi. Tapi, semua pengelolaan itu harus punya satu tujuan akhir: memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan rakyat Indonesia.

Pemerintah sendiri mencatat, untuk dua hingga tiga dekade ke depan, minyak dan gas bumi masih memegang peran krusial. Gas bumi bahkan akan jadi energi transisi menuju Net Zero Emission di 2060. Potensi kita masih sangat besar, dengan ratusan cekungan sedimen yang belum dieksplorasi. Cadangannya diperkirakan mencapai miliaran barel.

Contohnya tahun lalu, pemerintah menawarkan 75 blok migas baru di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lepas pantai. Semua ditawarkan via penugasan atau lelang reguler.

Tak kalah besarnya, potensi energi terbarukan kita dari surya, panas bumi, air, angin, sampai biomassa juga sangat menjanjikan. Sayangnya, pemanfaatannya masih minim. Kendala teknologi dan pembiayaan masih menjadi tembok besar.

Dari sengitnya perebutan energi oleh negara-negara adidaya, pasti ada banyak pelajaran yang bisa kita petik. Yang jelas, pengelolaan cadangan energi nasional harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kebijaksanaan.

Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI; Eks Ketua MPR RI ke-15; Eks Ketua DPR RI ke-20; Ketua Komisi III DPR RI ke-7. Pengajar Tetap Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya dan Universitas Pertahanan (Unhan).

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar