Karena itu, segala sesuatu yang melekat pada acara itu apa pun bentuknya harus mencerminkan nilai adab dan kepantasan. Harus ada penghormatan terhadap simbol-simbol agama.
"Argumen bahwa hiburan dilakukan setelah acara selesai tidak lantas menutup masalah," tegas Singgih.
Dari kacamata agama, ruang, simbol, dan konteks punya makna yang menyatu. Begitu hiburan yang dianggap tak selaras dengan nilai kesopanan Islami itu tampil di panggung dan dekorasi yang sama dengan acara keagamaan, batas antara yang sakral dan yang profan langsung buram. Itu sumber kegelisahan. Dan kegelisahan itu, nyata adanya.
Artikel Terkait
PSIM Fokus Hindari Degradasi Usai Imbang Lawan Semen Padang
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Berlakukan Protokol Khusus
Rem Blong Truk Kontainer Picu Kecelakaan Beruntun 10 Kendaraan di Cipularang, 2 Tewas
Rem Blong Truk Kontainer Picu Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang, 2 Tewas