Karena itu, segala sesuatu yang melekat pada acara itu apa pun bentuknya harus mencerminkan nilai adab dan kepantasan. Harus ada penghormatan terhadap simbol-simbol agama.
"Argumen bahwa hiburan dilakukan setelah acara selesai tidak lantas menutup masalah," tegas Singgih.
Dari kacamata agama, ruang, simbol, dan konteks punya makna yang menyatu. Begitu hiburan yang dianggap tak selaras dengan nilai kesopanan Islami itu tampil di panggung dan dekorasi yang sama dengan acara keagamaan, batas antara yang sakral dan yang profan langsung buram. Itu sumber kegelisahan. Dan kegelisahan itu, nyata adanya.
Artikel Terkait
Peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi Dikritik Muhammadiyah Usai Muncul Aksi Joget di Panggung
Operasi Tebar Garam di Jakarta Diperpanjang hingga 2026
Kolaborasi Warga dan Petugas Sukses Kembalikan Jakarta ke Normal Usai Banjir
PBNU Kecam Aksi Joget Usai Peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi