Kegaduhan di Persimpangan Lebak Bulus: Motor dan Angkot Sembrono Lawan Arah
Sabtu sore di Jalan Adhyaksa, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, tak ubahnya arena balap liar. Rupanya, rambu dan lampu lalu lintas cuma jadi hiasan bagi sejumlah pengendara. Mereka nekat melawan arus, memotong jalan demi menghemat waktu. Yang lebih parah, aksi nekat ini rupanya menular. Sebuah mobil angkutan kota terlihat ikut-ikutan berbuat serupa.
Pantauan di lokasi sekitar pukul empat sore menunjukkan, kekacauan itu berpusat di persimpangan dekat Superindo. Polanya selalu sama. Saat lampu merah menyala untuk kendaraan dari utara ke selatan, muncullah para penyerobot. Mereka melesat dari arah utara, memangkas jalur dengan seenaknya.
Beberapa pengendara motor bahkan tak sabar menunggu hijau. Meski lampu masih merah, mereka sudah menancap gas. Situasi jadi makin ruwet ketika angkot jurusan Parung-Lebak Bulus ikut ambil bagian. Kendaraan umum itu seenaknya menyerobot lajur kanan, lalu menerobos lampu merah tanpa peduli.
Akibatnya? Adu klakson pun tak terhindarkan. Kendaraan dari arah berlawanan yang hendak belok ke timur tiba-tiba dipotong oleh angkot. Suasana langsung panas.
Dampaknya jelas. Arus lalu lintas dari segala penjuru langsung tersendat. Kendaraan yang seharusnya lancar terpaksa melambat. Para pengendara harus ekstra hati-hati, waspada menghindari motor dan angkot yang melaju ugal-ugalan. Ritme lalu lintas pun kacau balau.
Bagi warga sekitar, pemandangan ini sudah jadi menu harian.
"Kayak gini tiap hari, dari sana (arah utara) padat, jalan kecil, lewat banyak. Orang pinginnya buru-buru jadi kayak gitu," ujar Herman (55), seorang warga yang ditemui di lokasi.
Menurutnya, jalan yang sempit tak sanggup menampung kepadatan lalu lintas. Tapi perilaku ugal-ugalan para pelawan arah ini justru jadi penyumbang kemacetan utama. Dia menambahkan, arus dari selatan ke utara sering macet karena jalannya terhalang kendaraan yang melawan arus.
"Kalau jam sibuk macet, gara-gara itu yang lawan arah. Dari sana (selatan) mau belok susah, mau lurus jalannya nyempit," keluhnya.
Warga lain, Rahman (38), punya cerita serupa. Menurutnya, kedisiplinan hanya muncul sesaat saat ada polisi. Itu pun tidak sepenuhnya ditaati.
"Kemarin itu ada polisi. Itu pun masih pada ngeyel lewat. Kalau udah nggak ada, ya sudah biasa kayak gini lagi," jelas Rahman.
Jadi, begitu aparat pergi, semua kembali seperti semula. Pelawan arah kembali leluasa, dan kekacauan pun kembali menghiasi persimpangan itu. Sebuah siklus yang sepertinya tak ada habisnya.
Artikel Terkait
Eddy Soeparno Apresiasi Fokus Program Makan Bergizi Gratis pada Anak Rentan
Evakuasi 8 Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Rampung Setelah 6,5 Jam Lewat Medan Berat
JK Bantah Tuduhan Penistaan Agama, Tegaskan Ceramahnya Ajakan Berdamai
Iran Kembali Kunci Ketat Selat Hormuz, Balas Blokade Laut AS