Warga Pandeglang Terbelah: Normalisasi atau Restorasi untuk Atasi Banjir Tahunan?

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 17:05 WIB
Warga Pandeglang Terbelah: Normalisasi atau Restorasi untuk Atasi Banjir Tahunan?

Cuaca ekstrem datang, banjir pun tak terhindarkan lagi. Itulah yang kerap dialami warga di beberapa wilayah selatan Pandeglang. Air meluap dari Sungai Cilemer dan Ciliman, menggenangi rumah-rumah, menjadi cerita yang berulang setiap tahun.

Muiz, seorang warga Desa Surianen di Kecamatan Patia, sudah sangat akrab dengan siklus ini. "Setiap tahun di sini selalu banjir," ujarnya pada suatu Sabtu di pertengahan Januari. "Jadi kalau banjir sudah tidak terhitung."

Menurutnya, masalahnya jelas: aliran sungai sudah menyempit dan jadi dangkal. Solusi yang dia lihat adalah normalisasi sungai oleh pemerintah kabupaten. Ia berharap langkah itu bisa mencegah air sampai masuk ke pemukiman.

"Mungkin kalau saya berpikiran gimana caranya minimal banjir bisa teratasi, bisa tertanggulangi. Di antaranya mungkin ada perbaikan sungainya, normalisasi biar banjir tidak sampai ke rumah," usul Muiz.

Namun begitu, pembangunan tanggul yang ada sepanjang sungai dinilainya belum cukup. Ia meyakini normalisasi adalah kunci. "Sungai dibikin tanggul belum selesai juga, tapi nggak cukup dengan tanggul, perlu normalisasi," tegasnya.

Di sisi lain, ada suara lain dari warga, Hafiz Fauzani. Ia melihat persoalannya lebih jauh lagi, bukan sekadar soal mengeruk dan meluruskan aliran. Menurut Hafiz, ekosistem sungai yang rusak perlu dipulihkan.

"Saya berpandangan bahwa penanganan banjir tidak seharusnya hanya mengandalkan normalisasi sungai," katanya.

Ia lantas menjelaskan, "Restorasi sungai perlu diperkuat sebagai pendekatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan."

Baginya, solusi jangka panjang terletak pada mengembalikan fungsi alamiah sungai. Itu berarti memperhatikan dataran banjir, vegetasi di bantarannya, dan menciptakan aliran air yang seimbang. Dengan begitu, sungai punya ruang untuk bernapas, menahan dan memperlambat laju air saat hujan deras tiba. Ia juga berharap ada ajakan yang lebih gencar dari pemerintah untuk mengajak warga menjaga sungai, mengingat kerusakan di daerah aliran sungai (DAS) yang sudah terjadi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar