Kebocoran data dan serangan siber di Indonesia masih terus terjadi. Menurut Alexander Sabar, Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kominfo, akar masalahnya seringkali justru hal-hal teknis yang mendasar. Bukan soal teknologi canggih, tapi lebih ke sistem yang sudah tua dan, ya, kelalaian manusia.
Bayangkan saja, banyak sistem digital kita dibangun dengan arsitektur lawas. Mereka seperti mesin tua yang jarang diservis, sehingga tidak lagi mendapat pembaruan keamanan rutin. Kondisi seperti ini tentu saja membuatnya jadi sasaran empuk bagi para pelaku kejahatan siber.
Di sisi lain, disiplin kita sebagai pengguna juga masih lemah. Ini terlihat dari hal-hal sederhana seperti cara mengelola kata sandi yang sembarangan, konfigurasi sistem yang asal-asalan, sampai tata kelola akses yang berantakan.
kata Alex kepada wartawan akhir pekan lalu.
Menurutnya, memisahkan antara human error dan serangan murni peretas itu sulit. Faktanya, banyak kebocoran data terjadi bukan karena teknik peretas yang hebat, melainkan akibat celah dari dalam. Salah konfigurasi, karyawan yang terjebak phishing, atau hak akses yang dibagi-bagi tanpa kendali adalah contoh nyatanya.
Yang menarik, Alex menyoroti instansi dengan anggaran IT besar sekalipun tak luput dari masalah. Anggaran besar ternyata tidak serta-merta jadi jaminan keamanan tinggi.
“Serangan tidak lagi bersifat acak, melainkan dirancang sesuai karakteristik target, termasuk instansi pemerintah dan sektor-sektor strategis,” jelasnya.
Artikel Terkait
ELT Rusak, Pencarian Pesawat ATR 42-500 di Maros Andalkan Cara Manual
Macron Geram, Ancaman Tarif Trump untuk Greenland Picu Ancang-ancang Eropa
Trump Guncang Sekutu NATO dengan Ancaman Tarif 25% demi Greenland
Motor Tercebur di Kali Cileungsi, Pengendara Selamat Berkat Lompatan Cepat