Di hadapan ribuan pelajar di GOR Tri Buana Pekanbaru, Kamis lalu, suasana terasa berbeda. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan tak hanya berbicara soal keamanan, tapi justru menyuarakan kepedulian lingkungan. Acara Youth Green Policing Eco Academy 2026 itu menjadi panggungnya untuk menyampaikan pesan mendesak: generasi muda, khususnya mereka yang lahir sekitar 2007-2008, harus jadi garda terdepan pelestarian alam Riau.
Menurutnya, anak-anak muda ini punya 'senjata' ampuh yang tak dimiliki generasi sebelumnya: teknologi di ujung jari. Kekuatan itulah yang harus dimanfaatkan.
"Satu postingan kalian di media sosial bisa menjangkau jutaan orang. Satu video TikTok yang kalian buat tentang kondisi hutan Riau bisa memicu kesadaran ekologis secara global,"
kata Herry Heryawan dengan semangat.
Nada bicaranya kemudian berubah lebih personal dan haru. Ia menyebut kehadirannya saat itu bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai penyambung lidah bagi makhluk yang tak bisa bersuara.
"Saya hadir di sini bukan saja mewakili diri saya, tapi mewakili Domang, Tari, dan seluruh gajah yang ada di pusat latihan gajah di Riau. Domang dan Tari tidak bisa membuat petisi, tidak bisa protes terhadap hutan yang ditebang secara serampangan,"
ujarnya, penuh emosi.
Ia lalu memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Dari hamparan hutan Riau yang luasnya mencapai 5,6 juta hektare, degradasi terjadi secara masif. Herry, lulusan Akpol 1996 ini, menyebut hampir 75 persen atau sekitar 1,4 juta hektare hilang karena deforestasi dan kebakaran.
"Ini bukan sekadar angka, tapi ancaman nyata yang kita rasakan melalui banjir dan kabut asap," tegasnya. Ia mengajak para siswa mengingat kembali tragedi kabut asap tahun 2015-2016 yang sempat melumpuhkan aktivitas dan menutup bandara. Itu, katanya, adalah pengingat keras agar kesalahan sama tidak terulang.
Di sisi lain, Kapolda justru optimis. Ia memuji karakter anak muda zaman sekarang yang dianggapnya lebih cepat bertindak. Kecenderungan untuk langsung "action" ini, dipadu dengan kemampuan menyebar informasi lewat media sosial, bisa menjadi kunci perubahan besar bagi Bumi Lancang Kuning.
Menutup orasinya, pesannya sederhana tapi tegas. Mencintai alam dimulai dari mengakui kerusakan yang ada, lalu punya nyali untuk bergerak.
"Kalian adalah kunci perubahan. Jangan hanya bicara, tapi bertindaklah. Masa depan Riau ditentukan oleh sejauh mana kalian peduli pada hutan yang menjadi titipan anak cucu kita kelak,"
pungkas Herry Heryawan.
Acara YGPEA 2026 itu sendiri juga diramaikan oleh sejumlah tokoh seperti Rocky Gerung, Robet, dan Sherly Annavita. Mereka bersama-sama berkomitmen membangun kesadaran lingkungan bagi seribu pelajar perwakilan se-Provinsi Riau.
Artikel Terkait
JPPI Desak Pemberhentian dan Pencabutan Gelar Guru Besar Unpad Terduga Pelaku Pelecehan
NO NA Rilis Single Rollerblade Jelang Tampil di Festival Head In The Clouds 2026
Jaksa Tuntut Mantan Pejabat Kemendikbud 6-15 Tahun Penjara atas Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Langsung Diwarnai Pelanggaran di Berbagai Front