"Karena sekolah terdampak banjir, siswa belajar di rumah, baik melalui Zoom maupun penugasan proyek learning, sambil siaga dan menunggu banjir surut," ujar Oyok.
Cerita serupa datang dari D Suriyati, Kepala SDN 4 Pagelaran. Halaman sekolahnya sudah seperti kolam. Bahkan, ruang kelas yang seharusnya ramai dengan celoteh siswa, kini beralih fungsi menjadi tempat perlindungan sementara bagi warga yang mengungsi.
"Siswa belajar daring. Sekolah sampai saat ini dipakai tempat mengungsi," katanya singkat, menggambarkan situasi yang serba sulit.
Jadi, sementara air belum juga menunjukkan tanda-tanda surut, kegiatan pendidikan tetap berjalan seadanya dari balik layar. Sebuah adaptasi darurat di tengah musim yang tak bersahabat.
Artikel Terkait
Mengembalikan Pilkada ke DPRD: Solusi Efisiensi atau Pengkhianatan Konstitusi?
Pratikno Soroti Data Akurat sebagai Kunci Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
Misbakhun Dorong Pilkada Lewat DPRD: Evaluasi Dua Dekade Demokrasi Langsung
Saksi Dodi Abdulkadir Buka Suara di Sidang Perintangan Penyidikan Migor