Iran di Bawah Kabut: Ribuan Korban Dikhawatirkan, Rezim Hadapi Gelombang Protes Terkeras

- Senin, 12 Januari 2026 | 14:10 WIB
Iran di Bawah Kabut: Ribuan Korban Dikhawatirkan, Rezim Hadapi Gelombang Protes Terkeras

Gelombang protes di Iran tak kunjung reda. Meski aparat keamanan terus diperketat dengan cara-cara yang keras, gelombang unjuk rasa justru makin meluas. Yang jadi masalah, situasi di lapangan semakin sulit dipantau. Pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon membuat informasi dari dalam negeri terhambat, ibarat kabut tebal yang menutupi medan perang.

Laporan-laporan yang berhasil menembus blokade itu datang dari para jurnalis dan kelompok HAM. Mereka menggambarkan situasi yang sangat mencekam. Daniela Sepheri, seorang aktivis Jerman-Iran, bicara blak-blakan tentang risiko yang dihadapi warga biasa yang turun ke jalan.

"Rezim sedang berjuang mati-matian mempertahankan kekuasaan. Tapi rakyat Iran juga sedang berjuang," ujar Sepheri.

Dia bilang, meski kondisinya sangat berbahaya, nyali para demonstran tak surut.

"Keluar rumah saja sudah berisiko tinggi, apalagi berdemonstrasi. Tapi mereka tetap melakukannya. Kami terus dapat laporan-laporan mengerikan soal pembantaian," katanya.

Lebih jauh, Sepheri menuding aparat tak segan menyerang langsung pengunjuk rasa. Bahkan, ada upaya masuk ke rumah sakit untuk menculik korban yang terluka. Sungguh sulit dibayangkan.

Verifikasi angka korban pun jadi tantangan besar. "Sangat sulit memastikan angka-angka yang kami terima karena internet padam," jelasnya. "Lewat Starlink, beberapa video masih bisa bocor. Media Iran di luar negeri sibuk memeriksa kebenarannya sepanjang hari."

"Kami cuma bisa memperkirakan, dalam dua atau tiga hari terakhir saja, mungkin sudah ribuan orang tewas," tambah Sepheri dengan nada berat.

Mengapa respon rezim begitu brutal? Menurut Sepheri, itu satu-satunya bahasa yang mereka pahami. "Sudah puluhan tahun begini. Dalam protes-protes sebelumnya, jawabannya selalu kekerasan. Mereka abai dengan tuntutan rakyat," paparnya.

Dia mengaku belum pernah menyaksikan kekerasan sebrutal ini sebelumnya. "Penindakan kali ini yang paling kejam yang pernah kami lihat. Secara pribadi, saya terkejut," ucapnya.

Sepheri juga menyoroti akar masalahnya: kesenjangan sosial yang menganga. "Jurang antara kaya dan miskin begitu lebar. Kelas menengah hampir punah. Kaum elite makin kaya, rakyat biasa makin terpuruk," tuturnya, melukiskan konteks yang memicu kemarahan publik.

Korban Jiwa Mencapai 544 Orang

Di sisi lain, data dari kelompok aktivis memperlihatkan angka korban yang terus membengkak. Setidaknya 544 orang dilaporkan tewas dalam penindakan terhadap protes nasional ini.

Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga HAM berbasis di AS, menyebut lebih dari 10.600 orang telah ditahan. Dari total korban tewas, 496 di antaranya adalah demonstran, dan 48 lainnya anggota pasukan keamanan. HRANA memperingatkan, angka ini masih mungkin bertambah.

Data mereka, kata HRANA, didasarkan pada laporan silang dari aktivis di dalam dan luar Iran. Mereka mengklaim punya rekam jejak akurat dalam gelombang protes sebelumnya. Sementara itu, pemerintah Iran sendiri masih bungkam, belum merilis angka resmi korban jiwa.

Tanggapan Pemerintah: Berkabung dan "Perlawanan Nasional"


Halaman:

Komentar