Bentrok bersenjata akhirnya pecah di Aleppo. Setelah berhari-hari ketegangan memuncak, kota di utara Suriah itu kini jadi medan pertempuran antara pasukan pemerintah dan milisi Kurdi. Korban berjatuhan. Menurut pantauan Lembaga Pemantau Suriah untuk Hak Asasi Manusia di London, sedikitnya 12 warga sipil tewas sejak Selasa lalu. Tak cuma itu, sejumlah serdadu pemerintah dan seorang gerilyawan Kurdi juga dilaporkan meninggal. Lebih dari 60 orang lainnya cedera dalam kekacauan itu.
Gelombang pengungsian pun tak terhindarkan. Sekitar 142 ribu warga, menurut catatan Komite Tanggap Darurat Aleppo, telah mengungsi mencari aman hingga Kamis. Suasana kota berubah total. Sekolah-sekolah tutup. Bahkan lalu lintas udara dari dan ke bandara Aleppo dihentikan sama sekali, mengisolasi kota yang sudah terluka ini.
Pemerintah Suriah di Damaskus punya pembelaan. Mereka bilang operasi militer ini cuma untuk jaga keamanan dan cegah aktivitas bersenjata di kawasan permukiman. Meski sempat buka koridor kemanusiaan Rabu dan Kamis sampai tengah hari, dua distrik yang dikuasai Kurdi, Sheikh Maqsoud dan Achrafieh, kemudian ditetapkan sebagai "zona militer tertutup". Sayangnya, langkah itu tak menyelesaikan masalah. Sekitar 100 ribu warga diperkirakan masih terjebak di tengah baku tembak.
Di sisi lain, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi membantah keras. Mereka menampik ada target militer di wilayah administrasi mereka.
"Tentara Suriah justru menyerang warga sipil," tuduh mereka, sambil memperingatkan bahwa eskalasi di Aleppo ini berisiko menyeret Suriah kembali ke jurang perang terbuka.
Kekhawatiran itu diamini pengamat.
"Pertempuran ini berdampak langsung terhadap stabilitas Suriah," kata Nanar Hawach, analis senior Suriah dari International Crisis Group.
Dia memperingatkan, jika kebuntuan ini berlarut, kekerasan lokal yang sekarang terjadi berpotensi merembet ke wilayah lain.
Mediasi dan Seruan Damai
Sementara kedua pihak saling tuding, sejumlah aktor internasional berusaha meredakan panas. Mediator dari Amerika Serikat dan Turki dikabarkan turun tangan. PBB juga angkat bicara.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyerukan semua pihak untuk "segera menurunkan eskalasi dan menahan diri semaksimal mungkin."
Dia mendesak agar langkah-langkah segera diambil untuk mencegah korban sipil bertambah, dan yang terpenting, perundingan untuk mengimplementasikan kesepakatan Maret harus segera dimulai kembali.
Retaknya Kesepakatan Lama
Kesepakatan yang dimaksud itu memang rapuh. Ditandatangani pada 10 Maret 2025, perjanjian itu adalah buah dari peristiwa besar: tumbangnya Bashar Assad tiga bulan sebelumnya oleh serangan kilat kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham. Dalam kesepakatan itu, SDF sepakat berintegrasi dengan pemerintah sementara pimpinan Presiden Ahmad al-Sharaa. Bukan cuma gencatan senjata, ini diharapkan jadi jalan penyatuan Suriah.
Isinya, wilayah Kurdi dengan populasi sekitar 2,5 juta dan kekayaan minyaknya akan kembali di bawah kendali pemerintah pusat. Sebagai gantinya, komunitas Kurdi diakui sebagai bagian dari negara yang bersatu.
Artikel Terkait
KPK Sita Emas dan Miliaran Rupiah dalam OTT Pejabat Pajak
KUHP Baru Diklaim Jadi Tameng Bagi Pengkritik Pemerintah
KPK Amankan Pejabat Pajak Jakarta Utara dalam OTT Suap Rp 4 Miliar
Pajak Rp75 Miliar Menyusut Drastis, Lima Tersangka Terjerat Kasus Suap di KPP Jakarta Utara