Menurut pengelola pasar, masalah ini bukan hal baru. Agus Lamun, Manajer Pasar Induk Kramat Jati, mengaku penumpukan sudah berlangsung sejak November tahun lalu. Artinya, kondisi ini terbawa hingga masuk tahun baru.
Agus kemudian menjelaskan akar masalahnya. Biasanya, ada sekitar lima belas truk dari DLH yang rutin beroperas. Namun belakangan, jumlahnya merosot tinggal tujuh atau delapan armada saja.
Kata "deposit" yang ia sebut terdengar halus, tapi realitas di lapangan jauh lebih keras. Warga harus menahan bau dan pemandangan yang tak sedap, sementara solusi permanen sepertinya masih harus ditunggu.
Artikel Terkait
All In Rp23 Miliar, Utang Pajak Rp75 Miliar Anjlok Drastis
PSI Gelar Rakernas di Makassar, Janjikan Kejutan Tokoh Baru
Dua Menteri Pimpin MES, Ekonomi Syariah Siap Melesat?
Ekskavator Dikirim Andre Rosiade untuk Tangani Longsor di Maninjau