AS Suntik Rp 758 Miliar untuk Kukuhkan Gencatan Senjata Thailand-Kamboja

- Jumat, 09 Januari 2026 | 17:15 WIB
AS Suntik Rp 758 Miliar untuk Kukuhkan Gencatan Senjata Thailand-Kamboja

Dalam upaya menopang gencatan senjata yang masih goyah antara Thailand dan Kamboja, pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengumumkan bantuan keuangan yang cukup besar. Nilainya mencapai 45 juta dolar AS, atau jika dirupiahkan, kira-kira Rp 758 miliar. Konflik perbatasan yang memanas antara kedua negara tetangga itu memang butuh perhatian serius.

Kabar ini datang setelah kunjungan Michael DeSombre, seorang pejabat tinggi dari Departemen Luar Negeri AS untuk kawasan Asia Timur. Menurut laporan AFP pada Jumat (9/1/2026), DeSombre telah terbang ke Thailand dan Kamboja. Agenda utamanya? Mencari cara konkret untuk memperkuat kesepakatan damai yang masih rentan itu.

Gencatan senjata ini sendiri punya catatan politik yang menarik. Upaya perdamaian itu sempat diupayakan untuk disoroti sebagai salah satu capaian oleh Presiden Donald Trump.

Dalam pernyataannya, DeSombre membeberkan rincian bantuan tersebut. Sebagian dana, senilai 20 juta dolar AS (sekitar Rp 336,9 miliar), akan dialokasikan untuk memerangi dua kejahatan yang meresahkan: perdagangan narkoba dan penipuan online. Masalah-masalah ini, terutama scam online, telah menjadi momok yang sangat dikhawatirkan di Kamboja.

Di sisi lain, bantuan juga akan menyentuh aspek kemanusiaan. Washington menyisihkan 15 juta dolar AS (Rp 252,7 miliar) untuk mendukung para pengungsi. Mereka adalah warga yang terpaksa mengungsi akibat pertempuran sengit di wilayah perbatasan beberapa waktu lalu. Tak ketinggalan, ada pula anggaran 10 juta dolar AS (Rp 168,4 miliar) yang dikhususkan untuk operasi pembersihan ranjau warisan kelam dari konflik bersenjata.

“Amerika Serikat akan terus mendukung pemerintah Kamboja dan Thailand saat mereka menerapkan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur dan membuka jalan bagi kembalinya perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas bagi rakyat mereka dan kawasan ini,” tegas DeSombre.

Perjanjian yang dia sebutkan itu ditandatangani oleh kedua negara di hadapan Donald Trump. Waktu itu, Oktober tahun lalu di Malaysia, yang kebetulan sedang menjabat sebagai Ketua ASEAN. Momentum itu kini coba dijadikan pijakan untuk membawa stabilitas yang lebih permanen.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar