Indonesia resmi memegang palu Presiden Dewan HAM PBB. Ini bukan posisi simbolis belaka, melainkan tugas berat di tengah situasi dunia yang carut-marut.
Di mana-mana, konflik bersenjata terus berkecamuk. AS baru-baru ini bergerak di Venezuela. Rusia sebelumnya di Krimea, lalu perang Ukraina yang masih menyisakan luka. Tak kalah mencekam, kelakuan Israel di Gaza dan kekerasan brutal di Sudan Selatan. Di wilayah kita sendiri, tensi antara Kamboja dan Thailand sempat memanas. Belum lagi kasus Rohingya di Myanmar masih seperti bara dalam sekam.
Dengan kata lain, agenda Dewan HAM menumpuk dan rumit. Tantangannya makin nyata ketika negara-negara besar macam AS, China, atau Rusia kerap bertindak sendiri, tanpa peduli mekanisme internasional. Mereka punya kekuatan, lalu bertindak sepihak, seringkali mengabaikan PBB.
Nah, aksi unilateral semacam itu jelas ancaman serius bagi HAM global. Pertanyaannya, bisakah isu-isu HAM yang diusung Dewan ini jadi rem yang efektif?
Di sinilah presidensi Indonesia harus dilihat. Posisi strategis ini datang di saat yang tepat, tapi juga penuh tantangan.
Artikel Terkait
Michelle Ashley Klaim Mandiri Finansial, Tolak Buka Sumber Penghasilan
Laga Eliminasi IBF Batal, Brandon Adams Dilarikan ke RS Sebelum Timbang Badan
Warga Geruduk Rumah Diduga Bandar Narkoba di Rohil, Kendaraan Dibakar
Kemacetan Parah Landa Kawasan Lapangan Banteng Imbas Gelaran Lebaran Betawi