Di sisi lain, mandat ini diakui Indah sebagai sesuatu yang prestisius. Namun begitu, tanggung jawab yang menyertainya juga tak main-main, apalagi melihat dinamika geopolitik global yang sedang panas.
“Dewan HAM juga mengalami banyak dinamika,” katanya.
“Namun secara khusus dengan tema Presidency for All, kita mencoba untuk menjalankan mandat sebagai Presiden ini dengan pendekatan yang inklusif.”
Menurutnya, pencapaian ini buah dari perjuangan diplomasi yang panjang. Bukan sesuatu yang diberikan begitu saja.
“Ini merupakan hasil kerja sama dan hasil upaya perjuangan diplomasi dari semua pihak yang digawangi atau dipimpin oleh Kemlu,” tegas Indah.
“Tentu saja presidensi ini bukan, apa namanya, bukan sesuatu yang given, tapi memang perlu diperjuangkan.”
Jadi, ini soal prestise sekaligus ujian. Indonesia kini punya panggung sekaligus beban untuk menunjukkan kepemimpinan di panggung HAM dunia.
Artikel Terkait
Warga Belanda Hadapi Dakwaan Produksi Ganja Hidroponik di Denpasar
Polda Aceh Kawal Pembangunan Huntap dan Jembatan Pascabencana
Sidang Praperadilan Gus Yaqut Ditunda, KPK Absen dengan Alasan Tim Sibuk
KRI Prabu Siliwangi-321 Sandar di Nigeria dalam Perjalanan Perdana ke Indonesia