Di sisi lain, mandat ini diakui Indah sebagai sesuatu yang prestisius. Namun begitu, tanggung jawab yang menyertainya juga tak main-main, apalagi melihat dinamika geopolitik global yang sedang panas.
“Dewan HAM juga mengalami banyak dinamika,” katanya.
“Namun secara khusus dengan tema Presidency for All, kita mencoba untuk menjalankan mandat sebagai Presiden ini dengan pendekatan yang inklusif.”
Menurutnya, pencapaian ini buah dari perjuangan diplomasi yang panjang. Bukan sesuatu yang diberikan begitu saja.
“Ini merupakan hasil kerja sama dan hasil upaya perjuangan diplomasi dari semua pihak yang digawangi atau dipimpin oleh Kemlu,” tegas Indah.
“Tentu saja presidensi ini bukan, apa namanya, bukan sesuatu yang given, tapi memang perlu diperjuangkan.”
Jadi, ini soal prestise sekaligus ujian. Indonesia kini punya panggung sekaligus beban untuk menunjukkan kepemimpinan di panggung HAM dunia.
Artikel Terkait
Guterres Murka, Rusia Hantam Infrastruktur Vital Ukraina di Tengah Beku
Gempa Magnitudo 2,8 Guncang Pandeglang Dini Hari
Ribuan Warga Padati Kemayoran, Gubernur Soroti Peran Keluarga dalam Perayaan Natal Bersama
Hanif Dhakiri Desak Pengawasan Proaktif untuk Jaga Data Nasabah