Kondisi ini rupanya sudah jadi rahasia umum di antara tetangga. Mereka tahu persis dan merasa iba melihat anak-anak itu kerap dibiarkan tak terurus.
"Tetangga itu peduli, sangat peduli. Makanya tetangga itu sudah hafal dengan kejadian itu," cerita Sri sambil menggambarkan kondisi fisik anak-anak tersebut. "Memang cukup kurus-kurus anaknya, tidak terurus. Sampai saya gendong, luar biasa. Anak segitu mandi, makan saja mungkin belum bisa."
Rasa iba itu lalu diwujudkan dalam aksi nyata. Warga sekitar kerap memberikan bantuan makanan, meski akses ke rumah mereka terbilang sulit.
"Jadi tetangganya itu yang peduli suka melemparkan makanan. Di sana aksesnya hanya lorong untuk jalan kaki, tidak bisa motor. Mereka bergandengan dengan tetangga, suka minta makanan dari sana-sini," katanya melukiskan situasi yang memilukan.
Peristiwa jatuhnya balita itu sendiri berakhir dengan pertolongan warga yang sigap. Mereka panik, tapi langsung bergerak cepat memberi pertolongan pertama sebelum si kecil dilarikan ke rumah sakit.
Syukurlah, nyawanya selamat. Meski begitu, korban mengalami luka di bagian dagu dan harus mendapatkan perawatan medis. Insiden ini, di balik keselamatannya, menyisakan tanda tanya besar tentang tanggung jawab pengasuhan yang seharusnya tak boleh diabaikan.
Artikel Terkait
KPK Periksa Tujuh ASN Pekalongan Terkait Dugaan Intervensi Bupati Nonaktif
KPK Tangkap 16 Orang dalam OTT, Termasuk Bupati Tulungagung
Menteri PU Akan Temui Kejati DKI Bahas Penggeledahan Kantor Terkait Kasus Korupsi
Kemenkeu Pertimbangkan Tukar Guling Geo Dipa dengan PNM