Di sebuah ruang sidang New York yang dingin, mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro membantah semua tuduhan. Pria berusia 63 tahun itu dengan tegas menyatakan dirinya tidak bersalah atas dakwaan perdagangan narkoba dan senjata yang dibebankan kepadanya.
Sidang itu sendiri digelar pada Senin (5/1) waktu setempat. Namun, suasana tegang sudah terasa sejak akhir pekan, tepatnya Sabtu (3/1) dini hari, ketika operasi militer AS mengguncang Caracas. Maduro ditangkap di rumahnya, lalu dibawa ke Amerika.
"Saya tidak bersalah, saya tidak bersalah,"
ucapnya di hadapan hakim. Suaranya terdengar lantang, meski situasi jelas tidak menguntungkannya.
Menurut pantauan media AS di dalam ruangan, Maduro masih bersikukuh menganggap dirinya sebagai presiden yang sah dari Venezuela. Perjalanannya ke pengadilan New York bukanlah perjalanan biasa. Dia diborgol, dikawal ketat petugas bersenjata lengkap, dan diangkut dengan mobil lapis baja sebelum akhirnya diterbangkan menggunakan helikopter.
Penangkapan dramatis ini seolah jadi puncak gunung es. Pemerintahan Trump memang sudah berbulan-bulan memberi tekanan ke Venezuela. Trump sendiri kerap mendesak Maduro untuk lengser dari kekuasaan. Tuduhannya berat: mendukung kartel narkoba yang dianggap bertanggung jawab atas ribuan kematian akibat narkoba ilegal di AS.
Operasi yang Menuai Kecaman
Serangan besar-besaran AS yang berujung pada penangkapan Maduro ini tak lepas dari kontroversi. Beberapa pemimpin internasional langsung menyuarakan kecaman. Lagi pula, aksi militer lintas batas negara selalu punya sisi hukum yang pelik.
Sejak September tahun lalu, catatan sudah menunjukkan eskalasi. Pasukan AS disebut telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam puluhan serangan di perairan Karibia dan Pasifik. Targetnya adalah kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela. Banyak pengamat hukum berpendapat, operasi semacam ini berisiko melanggar hukum, baik nasional AS maupun internasional.
Di sisi lain, Maduro tak sendirian. Istrinya, Cilia Flores, juga turut dibawa ke Amerika Serikat. Seluruh proses ini, bagi Washington, adalah upaya menegakkan hukum terhadap seorang pemimpin yang mereka anggap tidak sah. Tapi bagi Maduro dan pendukungnya, ini adalah sebuah penyanderaan politik.
Sidang baru saja dimulai. Dan seperti yang bisa diduga, jalan masih sangat panjang.
Artikel Terkait
Satpol PP Jakarta Utara Amankan 32 Orang dalam Operasi Pekat, Termasuk Pengamen Berkostum Pocong
Pakar Logistik Soroti Perlu Reformasi Sistem Distribusi untuk Tekan Inflasi Ramadan
Satpol PP Sita 755 Botol Miras Ilegal di Enam Kecamatan Jakarta Utara
Wali Kota Medan Tegaskan Tidak Ada Larangan Jual Daging Nonhalal, Fokus pada Penataan