Modus Solar Gelap Terbongkar di Jagorawi, Bagasi Fortuner Jadi Tangki 400 Liter

- Senin, 05 Januari 2026 | 08:40 WIB
Modus Solar Gelap Terbongkar di Jagorawi, Bagasi Fortuner Jadi Tangki 400 Liter

Bau menyengat solar di tengah malam itulah yang pertama kali menarik perhatian petugas. Saat patroli di Tol Jagorawi, tepatnya di kilometer 21 arah Bogor, aroma itu tercium begitu kuat. Rupanya, sumbernya berasal dari sebuah Toyota Fortuner yang sedang berhenti. Tindak lanjut pemeriksaan membuahkan hasil: seorang pria berinisial DP (23 tahun) diamankan.

Yang mengejutkan, bagasi mobil SUV itu sudah dimodifikasi sedemikian rupa.

"Jadi dia di bagasi itu bikin tangki penampung solar. Sementara pelaku sama barang bukti saya amanin ke induk. Itu solarnya ada 400 liter," jelas Kainduk PJR Tol Jagorawi, Kompol Ahmad Jajuli, Senin (5/1/2026).

Tangki kotak itu sepertinya dibuat khusus agar pas dengan ruang bagasi. Untuk mengalirkan bahan bakar, pelaku memanfaatkan paralon. Modifikasinya terbilang sederhana, tapi cukup untuk mengakali sistem.

Menurut Jajuli, kejadiannya berlangsung Minggu malam (4/1) sekitar pukul 23.30 WIB. Begitu mobil itu dilihat dan berhenti, anggota langsung mendekat. Rupanya, kecurigaan mereka tepat.

Bukan cuma tangki modifikasinya yang jadi barang bukti. Polisi juga menyita lebih dari 25 kode barang atau barcode yang diduga digunakan untuk mengisi bahan bakar di SPBU. Pelat kendaraan palsu pun ikut diamankan.

"Satu orang (diamankan), barcodenya ada 25 lebih, pelat nomornya ada 17 pasang. Yang semalem dipasang bukan yang asli," ucap Jajuli.

Modus operasinya cukup jelas. Dengan tangki tersembunyi dan segepok barcode, pelaku berkeliling mengisi solar subsidi. Solar itu kemudian ditampung, untuk apa lagi kalau bukan untuk dijual kembali di pasaran gelap? Praktik seperti ini sudah sering terjadi, namun tetap saja ada yang nekat mencobanya.

Kini, DP dan seluruh barang bukti telah diamankan untuk proses penyidikan lebih lanjut. Kasus ini kembali menyoroti penyalahgunaan solar bersubsidi yang seolah tak pernah berhenti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar