Nicolas Maduro, mantan presiden Venezuela itu, akhirnya tiba di New York. Dia akan segera menghadapi meja hijau pengadilan AS atas dakwaan terkait narkoba. Perjalanan panjang dari Caracas berakhir di ruang sidang Amerika.
Menurut laporan AFP, Senin (5/1/2026), ini akan jadi penampilan pertamanya di depan hakim. Saat ini, Maduro sedang dalam perjalanan menuju gedung pengadilan. Situasinya tentu jauh berbeda dari ketika ia masih berkuasa.
Bayangkan saja, pria yang dulu memimpin sebuah negara itu sekarang diborgol. Dia dikawal ketat oleh petugas bersenjata lengkap di dalam mobil lapis baja. Untuk sampai ke New York, Maduro harus diterbangkan dengan helikopter sebuah perjalanan yang penuh pengawalan dan ketegangan.
Puncak dari Tekanan Berbulan-bulan
Penangkapan Maduro ini bukanlah insiden yang tiba-tiba. Semuanya berawal dari serangan besar-besaran AS ke beberapa titik di Venezuela, yang berpuncak pada penyergapan di Sabtu (3/1) dini hari. Operasi ini menuai kecaman dari sejumlah pemimpin dunia, tapi bagi pemerintahan Trump, ini adalah langkah final dari tekanan yang dilakukan berbulan-bulan.
AS selalu menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah serangan itu, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa keluar dari Venezuela.
Presiden Trump sendiri sudah lama mendesak Maduro untuk lengser. Tuduhannya keras: Maduro dituding mendukung kartel narkoba yang dianggap bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.
"Dia dan kartel narkoba itu bertanggung jawab atas penderitaan ribuan keluarga di sini," begitu kira-kira tuduhan yang dilayangkan Trump.
Nyatanya, operasi militer AS sudah dimulai lebih dulu. Sejak September 2025, pasukan mereka dikabarkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam puluhan serangan. Sasaran mereka adalah kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela, yang beroperasi di perairan Karibia dan Pasifik.
Namun begitu, aksi ofensif AS ini tak lepas dari kontroversi. Banyak ahli hukum berpendapat, operasi semacam ini berpotensi melanggar hukum domestik AS sendiri, bahkan melangkahi aturan internasional. Sebuah langkah berisiko yang konsekuensinya masih harus ditunggu.
Artikel Terkait
Menteri Lingkungan Hidup Apresiasi Inovasi Ekonomi Sirkular MIND ID di Invirotech 2026
Pemprov DKI Pastikan CCTV di Bundaran HI Berfungsi Normal Saat Demo Mahasiswa
Acer Indonesia Libatkan 50 SMA di Jabodetabek dalam Gerakan Kumpulkan 5 Ton Limbah Elektronik
Paus Leo XIV Tertunda Berangkat dari Spanyol karena Masalah Teknis Pesawat