AS selalu menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah serangan itu, Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa keluar dari Venezuela.
Presiden Trump sendiri sudah lama mendesak Maduro untuk lengser. Tuduhannya keras: Maduro dituding mendukung kartel narkoba yang dianggap bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.
"Dia dan kartel narkoba itu bertanggung jawab atas penderitaan ribuan keluarga di sini," begitu kira-kira tuduhan yang dilayangkan Trump.
Nyatanya, operasi militer AS sudah dimulai lebih dulu. Sejak September 2025, pasukan mereka dikabarkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam puluhan serangan. Sasaran mereka adalah kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela, yang beroperasi di perairan Karibia dan Pasifik.
Namun begitu, aksi ofensif AS ini tak lepas dari kontroversi. Banyak ahli hukum berpendapat, operasi semacam ini berpotensi melanggar hukum domestik AS sendiri, bahkan melangkahi aturan internasional. Sebuah langkah berisiko yang konsekuensinya masih harus ditunggu.
Artikel Terkait
Sisa Kayu Banjir Lalu Kembali Hanyut di Sungai Wih Gile
Golkar Tegaskan Syarat: Pilkada Lewat DPRD Harus Libatkan Rakyat
Sampah Menumpuk di Balik Meja Wali Kota, Mahasiswa Geruduk Balai Kota Tangsel
Prabowo Bercanda soal Kekuatan Koalisi, Sebut PKB Harus Diawasi