Anwar Ibrahim Desak AS Bebaskan Maduro, Sebut Penangkapan Langgar Hukum Internasional

- Minggu, 04 Januari 2026 | 15:30 WIB
Anwar Ibrahim Desak AS Bebaskan Maduro, Sebut Penangkapan Langgar Hukum Internasional

Lewat sebuah unggahan di platform X, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tak ragu menyuarakan kritik pedasnya. Sasaran? Amerika Serikat. Anwar mendesak dengan tegas agar AS segera membebaskan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores. Menurutnya, tindakan penangkapan yang dilakukan Washington itu jelas-jelas melanggar hukum internasional.

Unggahan itu muncul pada Minggu (4/1/2026), dan langsung menarik perhatian. Anwar menyatakan ia telah mengamati situasi di Venezuela dengan perasaan was-was yang mendalam.

“Saya telah mengikuti perkembangan di Venezuela dengan keprihatinan yang mendalam. Pemimpin Venezuela dan istrinya ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat yang luar biasa luas dan bersifat tidak biasa,” tulisnya.
“Tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan merupakan penggunaan kekuasaan yang melanggar hukum terhadap negara berdaulat,” lanjut Anwar.

Bagi Anwar, langkah AS ini bukan cuma soal satu negara. Ini soal preseden. Dan presedennya berbahaya.

“Presiden Maduro dan istrinya harus dibebaskan tanpa penundaan yang tidak semestinya. Apa pun alasannya, pemecatan paksa kepala pemerintahan yang sedang menjabat melalui tindakan eksternal menciptakan preseden yang berbahaya,” tegasnya.
“Hal itu mengikis batasan mendasar terhadap penggunaan kekuasaan antarnegara dan melemahkan kerangka hukum yang mendasari tatanan internasional.”

Di sisi lain, Anwar menegaskan posisi prinsipil Malaysia. Kedaulatan suatu negara, baginya, adalah harga mati. Rakyat Venezuela, menurutnya, punya hak penuh untuk menentukan jalan mereka sendiri tanpa campur tangan pihak luar. Solusi yang ia tawarkan jelas: dialog. Hanya melalui keterlibatan yang konstruktif dan upaya meredakan ketegangan, situasi bisa berujung damai tanpa mengorbankan warga sipil.

Latar belakangnya, Maduro ditangkap oleh otoritas AS sehari sebelumnya, Sabtu (3/1). Penangkapan ini seperti jadi puncak gunung es dari ketegangan panjang antara Presiden AS Donald Trump dan Maduro, yang kerap dituding Washington sebagai pendukung kartel narkoba.

Nada tulisan Anwar kuat dan jelas. Ia tak cuma protes, tapi juga mengingatkan soal fondasi hubungan antarnegara yang bisa retak karena tindakan sepihak.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar