Pajak Kondom China: Upaya Kontroversial Atasi Krisis Kelahiran

- Jumat, 02 Januari 2026 | 14:15 WIB
Pajak Kondom China: Upaya Kontroversial Atasi Krisis Kelahiran

Tapi tidak semua sepakat. Rosy Zhao yang tinggal di Xian punya pandangan lain. Menurutnya, kenaikan harga kontrasepsi justru akan paling berdampak pada mahasiswa atau mereka yang secara finansial benar-benar tak siap punya anak. Ini adalah kebijakan "berisiko" yang berpotensi menimbulkan "akibat paling berbahaya".

Dampaknya Bagi Perempuan: Campur Tangan yang Terlalu Jauh?

Pendekatan pemerintah dinilai mulai mengusik ranah privat. Levin memperingatkan, cara-cara seperti ini berisiko memicu perlawanan. Masyarakat bisa merasa negara terlalu jauh ikut campur dalam pilihan hidup mereka yang paling personal.

Belakangan, media melaporkan fenomena yang menguatkan kekhawatiran itu. Perempuan di beberapa provinsi dilaporkan menerima panggilan dari pejabat lokal yang menanyakan siklus menstruasi dan rencana punya anak. Otoritas kesehatan setempat, seperti di Yunnan, berdalih data itu diperlukan untuk mengidentifikasi ibu hamil lebih dini.

"Partai Komunis tidak bisa tidak ikut campur dalam setiap keputusan. Jadi, pada akhirnya, mereka menjadi musuh terbesar bagi masyarakat dalam beberapa hal," tambah Levin.

Para pengamat juga menyoroti kepemimpinan yang didominasi laki-laki, yang dianggap gagal memahami perubahan sosial mendasar. Beban pengasuhan anak yang masih tak proporsional jatuh di pundak perempuan jadi salah satu akar masalah. Negara-negara lain seperti Korea Selatan dan Jepang juga berjuang dengan masalah serupa, dengan hasil yang belum maksimal.

Lalu, Apa Solusi yang Lebih Tepat?

Sejatinya, pemerintah China juga mencoba berbagai insentif lain. Ada pembebasan pajak untuk layanan penitipan anak, pernikahan, dan perawatan lansia. Beberapa daerah bahkan lebih agresif. Hohhot, kota di utara, menawarkan lebih dari Rp 228 juta untuk pasangan yang punya setidaknya tiga anak. Shenyang memberikan tunjangan bulanan Rp 1,1 juta untuk keluarga dengan anak ketiga yang masih di bawah tiga tahun.

Tapi bagi Daniel Luo, semua itu belum menyentuh inti persoalan. Baginya, pemerintah melewatkan masalah sebenarnya: generasi muda yang semakin teralienasi.

Dia merujuk pada melonjaknya penjualan mainan seks sebagai tanda bahwa "orang-orang hanya memuaskan diri sendiri". Alasannya sederhana sekaligus kompleks: "Berinteraksi dengan orang lain telah menjadi beban yang lebih besar."

Dunia online terasa lebih mudah dan nyaman. "Tekanan itu nyata," ujarnya. "Generasi muda saat ini menghadapi ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Memang, secara materi mereka lebih baik, tetapi semua orang hanya lelah."

Jadi, apakah pajak untuk kondom akan mengubah tren ini? Banyak yang meragukannya. Solusinya mungkin tidak sesederhana membuat alat kontrasepsi jadi lebih mahal, tetapi menciptakan lingkungan sosial dan ekonomi di mana membesarkan anak tidak lagi dirasa sebagai beban yang menguras tenaga, hati, dan dompet.


Halaman:

Komentar