Presiden Iran: Kami dalam Perang Penuh Melawan AS, Israel, dan Eropa

- Senin, 29 Desember 2025 | 06:45 WIB
Presiden Iran: Kami dalam Perang Penuh Melawan AS, Israel, dan Eropa

Presiden Iran Masoud Pezeshkian baru-baru ini melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia dengan tegas menyebut negaranya sedang berada dalam kondisi perang total. Lawannya? Amerika Serikat, Israel, dan juga negara-negara Eropa.

Pernyataan keras itu dilontarkan tepat sebelum rencana pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. Menurut sejumlah laporan, pertemuan itu dijadwalkan berlangsung awal pekan ini. Pezeshkian menuding pihak-pihak tersebut punya agenda jangka panjang: menggoyang stabilitas Iran.

Di situs milik Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, pernyataan Pezeshkian itu dipublikasikan. Yang bikin pernyataannya makin berat, ia membandingkan situasi sekarang dengan masa-masa kelam perang Iran-Irak di era 80-an. Menurutnya, keadaan sekarang justru lebih buruk.

"Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa. Mereka tidak menginginkan negara kami tetap stabil,"

Begitu kata Presiden Pezeshkian. Ia menggambarkan konflik saat ini sebagai sesuatu yang jauh lebih rumit dan sulit ketimbang perang konvensional dulu padahal perang melawan Irak kala itu merenggut lebih dari satu juta jiwa dari kedua belah pihak.

Nada konfrontasinya jelas sengaja ditingkatkan. Pertemuan Trump dan Netanyahu, yang dijadwalkan hanya dua hari setelah pernyataannya, dipastikan akan membahas Iran sebagai topik utama. Jadi, timing-nya jelas bukan kebetulan.

Latar belakang ketegangan ini memang panas. Kita masih ingat serangan udara Israel dan AS selama dua belas hari di bulan Juni lalu. Korban di pihak Iran hampir mencapai 1.100 orang, termasuk para petinggi militer dan ilmuwan nuklir. Iran pun membalas. Serangan rudal mereka disebut menewaskan 28 orang di Israel.

Jadi, pernyataan Pezeshkian ini bukan sekadar retorika kosong. Ini adalah gambaran resmi dari sebuah negara yang merasa dikepung dan sedang bersiap untuk konflik yang lebih luas.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar