Suasana salon di Desa Marisa Utara, Pohuwanto, mendadak tegang Jumat lalu. Bukan karena salah potong rambut, tapi gara-gara urusan tarif. Seorang kasir berinisial IT (25) dilaporkan menjadi korban penganiayaan oleh rekan kerjanya sendiri, seorang penata rambut berinisial JN (28). Awalnya cuma debat, tapi berujung bantingan dan tendangan.
Menurut keterangan Wakapolres Pohuwato, Kompol Heny Mudji Rahaju, kasus ini sudah dilaporkan korban.
“Iya, kemarin si korban melaporkan kasus diduga tindakan kekerasan, penganiayaan,” ujarnya, Minggu (28/12).
Semua berawal dari seberapa mahal sebenarnya harga sebuah potongan rambut. Setelah JN selesai menata rambut seorang pelanggan, sang kasir, IT, meminta bayaran sebesar Rp 200 ribu. Rupanya, angka ini yang jadi masalah besar.
JN, si penata rambut, geram. Di matanya, tarif segitu terlalu murah, tidak sepadan dengan kerja kerasnya. Namun begitu, IT bersikukuh. Baginya, harga itu sudah sesuai standar yang berlaku di salon tempat mereka sama-sama bekerja. Perbedaan pendapat yang sepele ini memicu adu mulut yang kian memanas.
Emosi pun tak terbendung. Bukannya reda, pertengkaran verbal itu malah berubah jadi kekerasan fisik. JN yang sudah kesal akhirnya melampiaskan amarahnya dengan cara yang brutal.
“Iya, diduga korban ditampar, dilempar pakai sisir kena di wajahnya, terus dibanting dan ditendang,” jelas Kompol Heny, merinci kronologi kejadian.
Akibatnya, tubuh IT pun penuh dengan luka memar. Sebuah harga mahal untuk sekadar perbedaan soal angka. Di sisi lain, insiden ini menyisakan pertanyaan tentang komunikasi dan pengelolaan emosi di tempat kerja. Konflik kecil bisa meledak jadi bencana, hanya karena hal-hal yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan kepala dingin.
Artikel Terkait
Prabowo Bela TNI dari Tuduhan Pelanggaran HAM di Hadapan Perwira Polri
Fekraf Banten Soroti Minimnya Fasilitas Penunjang ke DPRD
Seruni Desak Percepatan Pemulihan Ekonomi Korban Banjir Bandang Pidie Jaya
Jokowi Tegaskan Tolak Tawaran Wantimpres Prabowo, Pilih Tetap di Solo