Fungsinya ganda. Sebagai sarana edukasi, di sini pengunjung diajak melihat simulasi pergerakan benda langit di bawah kubah teater. Proyeksinya dibuat agar sains terasa visual dan mudah dicerna. Namun begitu, Planetarium Jakarta juga punya peran sebagai observatorium. Artinya, pengamatan langsung fenomena langit tertentu juga bisa dilakukan di sini.
Tempat ini dulu selalu ramai jadi lokasi kunjungan sekolah, diskusi, atau sekadar menyambut peristiwa astronomi spesial. Suasana belajarnya khas, berbeda dengan membaca buku di kelas.
Masa 'Tidur Panjang' Selama Kawasan Berbenah
Lalu, kenapa bisa tutup begitu lama? Jawabannya ada di proyek revitalisasi besar-besaran di Taman Ismail Marzuki. Seluruh kawasan dibenahi agar lebih modern dan representatif. Planetarium pun ikut dikurasi. Ruang pertunjukan, sistem proyeksi, hingga area pelayanan pengunjung ditingkatkan. Prosesnya tak sebentar, dan publik pun harus bersabar tidak bisa masuk bertahun-tahun.
Babak Baru Setelah 13 Tahun
Kini, semua sudah siap. Pemerintah Provinsi DKI memastikan revitalisasi rampung dan planetarium siap beroperasi normal. Harapannya jelas: tempat ini bisa kembali jadi ruang belajar sains yang inklusif dan menumbuhkan minat pada astronomi.
Dengan dibukanya kembali pintu-pintu ini, sebuah lembaga bersejarah akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Masyarakat Jakarta, khususnya generasi muda, kini punya lagi kesempatan untuk mengulik rahasia langit dari tempat yang penuh kenangan.
Artikel Terkait
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Dimakamkan dengan Penghormatan Militer di Kalibata
Menkeu Purbaya Beberkan Oknum Internal Bawa Kembali Vendor Bermasalah Penyebab Gangguan Coretax
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di SUGBK
Presiden Prabowo Bertolak ke Jepang, Bahas Kerja Sama Strategis dengan Kaisar dan PM