Kegagalan di tahun sebelumnya sama sekali tak menyurutkan langkahnya. Malah, itu jadi bahan bakar. Sebagai anak sulung, dia merasa punya tanggung jawab besar untuk mengangkat derajat orang tuanya. Di sela-sela membantu berjualan, waktu luangnya habis untuk latihan fisik dan belajar. Niatnya cuma satu: lulus.
Rumah sederhana mereka di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menjadi saksi bisu perjuangan itu. Bagi keluarganya, uang ratusan juta untuk ‘jalan pintas’ jelas sesuatu yang mustahil. Penghasilan harian dari gerobak gorengan nyaris cuma cukup untuk makan sehari-hari.
Namun begitu, Panji berhasil. Dia menunjukkan bahwa di institusi Polri, kerja keras dan kualitas diri jauh lebih berharga daripada sekadar uang.
“Ambisi saya hanya satu, ingin membanggakan ayah dan ibu,” tuturnya. “Saya ingin mereka melihat bahwa anak mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara tanpa membebani mereka secara ekonomi.”
Kini, setelah semua proses seleksi itu terlampaui, Panji tinggal menunggu. Pendidikan pembentukannya sebagai Bintara Polri rencananya dimulai tanggal 31 Desember 2025. Sebuah babak baru yang siap dia jalani dengan kepala tegak.
Artikel Terkait
Ekonom Sarankan Alihkan Subsidi BBM untuk Percepatan Elektrifikasi Hadapi Risiko Geopolitik
Kerangka Manusia Ditemukan di Perkebunan Lereng Muria, Identitas Masih Misterius
Komisi Eropa Salurkan Bantuan Tambahan 2 Juta Euro untuk Krisis Kuba
Komnas HAM Siap Panggil Empat Oknum TNI Tersangka Kasus Penyiraian Andrie Yunus