Baru saat fajar menyingsing, mereka bisa bergegas. Dengan menumpang gerobak yang ditarik hewan, mereka meluncur ke rumah sakit. Tapi segalanya sudah terlambat.
"Kondisinya sudah kritis," ucap Eman.
Staf medis di Rumah Sakit Bulan Sabit Merah di Khan Younis dibuat terkejut. Wajah bayi malang itu telah membiru, tubuhnya kejang-kejang. Dokter langsung membawanya ke unit perawatan intensif anak. Dua hari Mohammed bertarung dengan bantuan ventilator. Nyawanya tak tertolong. Ia menghembuskan napas terakhir pada 15 Desember.
Dengan air mata yang tak henti mengalir, Eman bersikeras, "Bayi saya tidak memiliki masalah medis. Hasil tesnya tidak menunjukkan penyakit apa pun. Tubuh mungilnya tidak mampu menahan dingin yang ekstrem di dalam tenda."
Kementerian Kesehatan Gaza kemudian mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka mengonfirmasi kematian seorang bayi akibat penurunan suhu tubuh parah atau hipotermia akut, dipicu cuaca ekstrem dan kondisi hidup yang keras. Bayi itu adalah Mohammed Khalil Abu al-Khair, berusia dua minggu.
"Anak itu, Abu al-Khair, tiba di rumah sakit dua hari yang lalu dan dirawat di unit perawatan intensif, tetapi ia meninggal kemarin," bunyi pernyataan kementerian.
Kematian Mohammed ini bukan yang pertama. Sejak bulan ini saja, setidaknya sudah empat anak di Gaza menjadi korban keganasan cuaca dingin. Tiga di antaranya dilaporkan meninggal pada minggu sebelumnya. Sebuah angka yang mungkin masih akan terus bertambah, selagi musim dingin dan kepedihan terus berlanjut.
Artikel Terkait
Iran Buka Pintu Negosiasi untuk Kapal Jepang dan Korea Selatan di Selat Hormuz
Warga Iran Rayakan Idulfitri di Tengah Situasi Perang, Menteri Ucapkan Terima Kasih atas Solidaritas Asia Tenggara
BMKG Imbau Waspada Hujan Lebat hingga Petir di Hari Kedua Lebaran 2026
Estimasi Pajak Tahunan Honda Vario 125 Street di Jakarta Capai Rp 369 Ribu pada 2026