Minyak Melimpah, Utang Menumpuk: Venezuela Terjepit di Tengah Sanksi dan Perebutan Citgo

- Senin, 05 Januari 2026 | 19:36 WIB
Minyak Melimpah, Utang Menumpuk: Venezuela Terjepit di Tengah Sanksi dan Perebutan Citgo

Utang Venezuela lagi-lagi jadi berita utama. Pemicunya? Serangan Amerika dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Sebenarnya, masalah gagal bayar ini sudah berlangsung lama, tepatnya sejak 2017 silam. Saat itu, pemerintah dan perusahaan minyak negara, PDVSA, tak sanggup lagi memenuhi kewajiban membayar obligasi internasional mereka.

Lantas, apa yang bikin negara kaya minyak ini sampai terjebak dalam situasi seperti ini? Jawabannya kompleks. Di satu sisi, krisis ekonomi telah menghantam Venezuela bertahun-tahun. Di sisi lain, sanksi dari AS memutus akses mereka ke pasar modal global. Dua hal ini saling berkait, menjerat perekonomian negara.

Akibatnya, utang pun membengkak luar biasa. Bunga yang menumpuk dan berbagai klaim hukum terkait pengambilalihan aset di masa lampau membuat pokok utang yang belum dibayar melonjak drastis. Kewajiban eksternal mereka sekarang jauh lebih besar ketimbang nilai obligasi awalnya. Dan situasinya makin runyam sejak Donald Trump kembali berkuasa di awal 2025 lalu.

Sebenarnya, Berapa Sih Utang Venezuela?

Angkanya sungguh fantastis. Menurut analis yang dikutip Reuters, obligasi yang gagal bayar saja nilainya sekitar 60 miliar dolar AS. Tapi itu baru sebagian. Kalau dihitung total utang eksternalnya termasuk kewajiban PDVSA, pinjaman bilateral, dan putusan arbitrase angkanya bisa mencapai 150 hingga 170 miliar dolar AS. Tergantung cara menghitung bunga yang menumpuk dan keputusan pengadilan.

IMF memperkirakan PDB Venezuela tahun 2025 sekitar 82,8 miliar dolar AS. Bayangkan, rasio utang terhadap PDB-nya bisa menyentuh 180% sampai 200%. Sungguh beban yang luar biasa berat.

Nah, salah satu aset yang jadi rebutan adalah Citgo. Perusahaan penyulingan minyak di AS ini dijaminkan untuk obligasi PDVSA yang jatuh tempo tahun 2020. Citgo sepenuhnya dimiliki oleh PDVSA yang berkantor pusat di Caracas. Sekarang, aset inilah yang jadi sasaran empuk bagi para kreditur yang berusaha mendapatkan kembali uang mereka lewat pengadilan.

Melacak siapa saja krediturnya juga bukan hal mudah. Venezuela sudah lama dikenai sanksi. Mayoritas kreditur komersialnya adalah pemegang obligasi internasional, termasuk investor spesialis utang bermasalah atau yang sering dijuluki ‘dana pemangsa’.

Ada juga kelompok perusahaan yang menang arbitrase internasional setelah asetnya disita Venezuela. Pengadilan AS sudah mengukuhkan putusan ganti rugi miliaran dolar untuk perusahaan seperti ConocoPhillips dan Crystallex. Putusan ini mengubah klaim mereka menjadi kewajiban utang, membuka jalan untuk menyita aset Venezuela lainnya.

Persaingan untuk menguasai Citgo pun semakin sengit. Di Pengadilan Delaware, nilai lelang untuk perusahaan induk Citgo, PDV Holding, tercatat sekitar 19 miliar dolar AS. Jumlah itu jauh melebihi perkiraan nilai total aset Citgo sendiri.

Selain kreditur komersial, Venezuela juga punya utang bilateral. China dan Rusia adalah pemberi pinjaman terbesar, baik kepada Maduro maupun pendahulunya, Hugo Chavez. Tapi angka pastinya sulit dipastikan. Venezuela sendiri sudah bertahun-tahun tidak menerbitkan data utang yang komprehensif.

Lalu, Bagaimana Proses Restrukturisasinya?

Ini akan jadi proses yang sangat rumit dan butuh waktu lama. Banyaknya klaim, berbelitnya proses hukum, dan ketidakpastian politik membuat semuanya seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.

Sebenarnya, penyelesaian utang bisa dibantu dengan program IMF yang menetapkan target fiskal dan asumsi keberlanjutan. Tapi masalahnya, Venezuela sudah hampir dua dekade tidak melakukan konsultasi tahunan dengan IMF. Akses mereka terhadap pembiayaan IMF pun terblokir.

Sanksi AS tetap jadi hambatan besar. Sejak 2017, pembatasan yang diberlakukan baik oleh pemerintahan Partai Republik maupun Demokrat membatasi kemampuan Venezuela untuk menerbitkan atau merestrukturisasi utang tanpa izin khusus dari Kementerian Keuangan AS.

Ke depannya, nasib sanksi ini masih jadi tanda tanya. Yang jelas, untuk saat ini, Trump menyatakan AS akan mengelola Venezuela, negara yang cadangan minyaknya melimpah itu. Apa artinya bagi proses restrukturisasi utang? Kita lihat saja nanti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar