Dapur umum di kompleks Polri Pejaten itu ramai oleh kunjungan tamu istimewa, Kamis lalu. Delegasi dari Kedutaan Besar Prancis, bersama sejumlah ahli dari Badan Gizi Nasional, menyempatkan diri melihat dari dekat kerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri. Rupanya, penyediaan gizi untuk anak-anak lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini menarik perhatian mereka.
Menurut keterangan yang beredar, kunjungan itu bukan sekadar formalitas. Polri memang sedang serius menjalankan program ini sebagai bagian dari komitmen mendukung pemerintahan sekarang. Yang menarik, setiap hidangan yang akan dikirimkan ke anak-anak harus melalui pemeriksaan ketat dari Dokkes Polri dulu. Jadi, soal keamanan dan kebersihan, mereka klaim tak main-main.
Nah, perhatian khusus dari delegasi Prancis ini dianggap sebagai sebuah pengakuan. Mereka melihat upaya Polri untuk menjalankan MBG tak cuma cepat dan luas jangkauannya, tapi juga menjaga standar tinggi.
Director General for Global Affairs Prancis, Mrs. Salina Grenet-Catalano, tak sungkan memberi pujian.
"Menyediakan makanan baik dan bergizi setiap hari buat anak-anak itu fundamental. Penting banget buat perkembangan otak dan kemampuan intelektual mereka. Program semacam ini, bagi kami, adalah investasi besar untuk masa depan suatu bangsa," ujar Salina.
Ia juga menyinggung soal pendekatan lokal yang diterapkan di dapur Polri itu.
"Program makanan sekolah idealnya memang memanfaatkan produk lokal dengan rantai pasok yang pendek. Selain menjamin kesegaran, cara ini juga menggerakkan ekonomi di sekitar," tambahnya.
Delegasi pun diajak keliling, menyaksikan langsung proses masak-memasak hingga tahap pemeriksaan akhir sebelum makanan dikirim. Sistemnya dirancang agar setiap porsi yang sampai ke anak-anak benar-benar terjamin mutu gizinya.
Di kesempatan terpisah, Kasatgas MBG Polri, Irjen Pol. Nurworo Danang, memaparkan strategi mereka.
"Kami manfaatkan jaringan Polres yang ada, seluruhnya 508 unit, untuk mempercepat pembangunan SPPG di mana-mana. Targetnya, tiap Polres bisa bikin minimal satu dapur, biar layanannya merata dan cepat," tegas Danang.
Ia menjelaskan, untuk mengawal semua ini, sudah dibentuk Gugus Tugas MBG yang bekerja secara berjenjang dari Mabes hingga Polres.
"Semua diatur supaya standarnya sama. Ada buku panduan, SOP yang ketat, pemeriksaan sebelum distribusi, plus tim pengawas mutu dari pusat sampai daerah," jelasnya panjang lebar.
Uniknya, program ini tak cuma soal isi perut. Polri juga berusaha menyelipkan muatan budaya.
"Lewat buku menu Nusantara, kami perkenalkan bahan pangan lokal sekaligus melestarikan kuliner khas daerah. Jadi ada edukasi gizi dan budaya di dalamnya," imbuhnya.
Di mata delegasi Prancis, skala dan tata kelola MBG di Indonesia termasuk yang paling ambisius di dunia. Mereka bahkan menyatakan siap terus mendukung, antara lain lewat kerja sama dengan World Food Programme (WFP) dan menempatkan ahli di Bappenas.
Pada akhirnya, lewat program seperti MBG, Polri berusaha menunjukkan wajah lain. Bhayangkara tak hanya hadir untuk urusan keamanan, tapi juga turun tangan mengawal kualitas generasi penerus bangsa.
Artikel Terkait
Badut Penjual Balon di Mojokerto Bunuh Ibu Mertua dan Lukai Istri, Diduga Dipicu Masalah Ekonomi dan Cemburu
Tiga Korban Selamat Kecelakaan Maut Bus ALS di Sumatera Alami Trauma Berat Usai Lompat dari Kendaraan yang Terbakar
Menteri Sosial Pastikan Sekolah Rakyat Surabaya Rampung Juli, Tampung 1.000 Siswa
Polisi Ungkap Bahan Baku Vape Narkotika Etomidate di Jakarta Utara Didatangkan dari China