Ketegangan makin terasa belakangan ini. Sejak Minggu lalu, ELN bahkan memberlakukan jam malam selama tiga hari di wilayah-wilayah kekuasaannya. Mereka bilang ini respons atas ancaman dari Presiden AS Donald Trump. Awal bulan, Trump memang berkomentar keras bahwa negara produsen kokain yang memasok AS "bisa diserang."
Hubungan Kolombia dan AS sendiri sedang tidak baik-baik saja. Di bawah Presiden Gustavo Petro pemimpin sayap kiri pertama Kolombia dan dengan Trump kembali berkuasa, hubungan historis keduanya memburuk. Petro, yang kerap mengkritik Trump, bahkan dikenai sanksi dan dituduh terlibat perdagangan narkoba. Status Kolombia sebagai sekutu AS dalam perang narkoba pun dicabut.
Ironisnya, di tengah ketegangan ini, Washington justru mengumumkan rencana menetapkan Clan del Golfo geng narkoba terbesar di Kolombia sebagai organisasi teroris. Padahal, kelompok itu sedang terlibat dialog dengan pemerintahan Petro.
Merespons situasi, Presiden Petro pada hari Minggu lalu memerintahkan pasukan keamanannya untuk menyerang Clan del Golfo. Kelompok ini, bersama para pembangkang FARC, terus berperang memperebutkan wilayah dan bisnis haram yang bernilai miliaran.
Kolombia memang masih jadi pengekspor narkoba nomor satu di dunia. Dan pasar terbesarnya? Tak lain adalah Amerika Serikat. Sebuah lingkaran setan yang, untuk kesekian kalinya, dibayar dengan nyawa.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata Gaza Terkoyak Lagi, 11 Jiwa Melayang di Tenda Pengungsian
Motif Penculikan Bocor: Pelaku Ingin Rujuk dengan Ibu Korban
Jalur Penyelamatan Truk di Panyalaian Segera Dibangun, Anggaran Pusat Sudah Disetujui
Polairud Bergerak Cepat Atasi Kemacetan Kapal di Muara Angke