Operasi AS di Pasifik Timur Tewaskan 8 Orang, Diduga Bagian dari Kampanye Anti-Narkoba yang Memanas

- Selasa, 16 Desember 2025 | 14:05 WIB
Operasi AS di Pasifik Timur Tewaskan 8 Orang, Diduga Bagian dari Kampanye Anti-Narkoba yang Memanas

Lagi-lagi, Samudra Pasifik bagian timur jadi lokasi operasi militer AS. Kali ini, tiga kapal yang diduga kuat terlibat dalam perdagangan narkoba jadi sasaran. Hasilnya? Delapan orang dilaporkan tewas dalam serangan yang terjadi Senin lalu. Operasi ini seolah jadi babak lanjutan dari kampanye yang sudah merenggut lebih dari 90 nyawa.

Lewat sebuah unggahan di media sosial X, Komando Selatan AS menjelaskan alasannya. Mereka menyebut intelijen telah mengkonfirmasi bahwa kapal-kapal itu sedang melintasi rute perdagangan narkoba yang sudah dikenal di Pasifik Timur.

"Sebanyak delapan teroris narkoba laki-laki tewas selama aksi ini," begitu bunyi pernyataan resmi mereka.

"Tiga orang di kapal pertama, dua di kapal kedua, dan tiga di kapal ketiga."

Unggahan itu juga dilengkapi rekaman video yang cukup gamblang. Tampak tiga kapal terpisah mengapung di tengah laut, sebelum kemudian masing-masing dihantam dan hancur oleh serangan.

Sejak awal September lalu, operasi semacam ini memang digencarkan. Di bawah pimpinan Pete Hegseth di Pentagon, militer AS gencar mengejar kapal-kapal tersangka penyelundup narkoba, baik di Laut Karibia maupun Pasifik timur. Angkanya cukup signifikan: sedikitnya 26 kapal telah hancur dan 95 orang tewas.

Geliat operasi ini dibarengi dengan penumpukan kekuatan yang masif di kawasan Karibia. Kapal induk terbesar dunia dan sejumlah kapal perang lainnya dikerahkan, menciptakan kesan bahwa ini bukan operasi biasa.

Presiden Donald Trump bersikukuh soal tujuannya. Menurutnya, semua ini demi memerangi perdagangan narkoba yang merusak.

Namun, di sisi lain, Presiden Venezuela Nicolas Maduro punya tafsir berbeda. Ia curiga, alasan pemberantasan narkoba itu cuma kedok belaka. Maduro menduga ada maksud lain: upaya untuk menggulingkan rezimnya di Caracas.

Operasi ini sendiri tak lepas dari kontroversi. Ada satu insiden yang masih menyisakan tanda tanya besar: para korban selamat dari serangan pertama pada sebuah kapal, justru tewas setelah militer AS melancarkan serangan kedua ke kapal yang sama. Insiden inilah yang memicu banyak pihak menuding adanya kemungkinan kejahatan perang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar