Dari ribuan gempa yang terekam, sekitar 917 kali guncangan dirasakan warga. Dan dari jumlah itu, 24 di antaranya bersifat merusak. Angka ini memberi gambaran betapa aktifnya wilayah kita.
Tak cuma gempa, BMKG juga memperkuat pemantauan cuaca ekstrem. Mereka sudah memasang lightning detector atau alat pantau petir di 38 lokasi. Fungsinya sederhana tapi krusial: mendeteksi di mana petir menyambar dan seberapa besar intensitasnya.
“Kita bisa memprediksi petir akan terjadi di mana dan kapan akibat dari kondisi cuaca di sekitarnya,” ucap Faisal.
Ke depan, cara BMKG memberi peringatan juga akan berubah. Mereka sedang mengembangkan sistem prakiraan cuaca berbasis dampak, atau Impact-Based Forecast (IBF). Jadi, informasi yang diberikan nggak cuma soal cuacanya saja, tapi juga memperhitungkan potensi kerusakan atau dampak yang mungkin timbul. Lebih kontekstual, lah.
Artikel Terkait
Arus Mudik H-4 Lebaran di Tol Cipali Naik 22%, Sistem Satu Arah Diterapkan
Pria Mabuk di Bogor Ancam Bunuh Mantan Istri dan Anak, Diamankan Polisi
Truk Sumbu Tiga Langgar Aturan Jadi Pemicu Utama Kemacetan Panjang di Gilimanuk
BPJS Kesehatan dan Bappenas Bahas Keberlanjutan Program JKN