Dari ribuan gempa yang terekam, sekitar 917 kali guncangan dirasakan warga. Dan dari jumlah itu, 24 di antaranya bersifat merusak. Angka ini memberi gambaran betapa aktifnya wilayah kita.
Tak cuma gempa, BMKG juga memperkuat pemantauan cuaca ekstrem. Mereka sudah memasang lightning detector atau alat pantau petir di 38 lokasi. Fungsinya sederhana tapi krusial: mendeteksi di mana petir menyambar dan seberapa besar intensitasnya.
“Kita bisa memprediksi petir akan terjadi di mana dan kapan akibat dari kondisi cuaca di sekitarnya,” ucap Faisal.
Ke depan, cara BMKG memberi peringatan juga akan berubah. Mereka sedang mengembangkan sistem prakiraan cuaca berbasis dampak, atau Impact-Based Forecast (IBF). Jadi, informasi yang diberikan nggak cuma soal cuacanya saja, tapi juga memperhitungkan potensi kerusakan atau dampak yang mungkin timbul. Lebih kontekstual, lah.
Artikel Terkait
Puncak Arus Mudik di Pandeglang Diprediksi Terjadi Besok
Tito Janji Kawal Pemulihan Lahan Pertanian dan Tambak di Sumatera Pascabencana
Warga Tangerang Laporkan Penganiayaan ke Polisi Usai Kucing Peliharaan Dijaring dan Diancam Dibuang ke Penangkaran Buaya
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat dan Anggota DPR untuk Antisipasi Krisis Global