Indonesia punya jaringan pemantauan yang cukup luas untuk mengawasi cuaca dan aktivitas seismik. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tak kurang dari 10.000 detektor telah terpasang di 191 daerah. Alat-alat itu, yang mengawasi kondisi cuaca, gempa, hingga ancaman tsunami, dipantau langsung oleh unit-unit teknis BMKG di lapangan.
Di sepanjang tahun 2025 saja, aktivitas bumi kita ternyata cukup sibuk. Data yang dihimpun dari stasiun-stasiun pemantau itu mencatat lebih dari 40.000 kejadian gempa. Namun begitu, hanya sebagian kecil yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Ini terpantau di UPT-UPT BMKG, stasiun-stasiun yang tersebar di 191 daerah di Indonesia, dengan 10 ribu lebih alat yang memantau kondisi cuaca serta gempa dan tsunami,” jelas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Dia menyampaikan hal itu dalam Sidang Kabinet Paripurna bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, awal pekan ini.
Artikel Terkait
Putin dan Larijani Bahas Aliansi di Kremlin Saat Ancaman AS ke Iran Menggantung
Trump: Iran Ingin Berunding, Tapi Batas Waktu Rahasia Sudah Ditetapkan
Es Legen di Pantura Berujung Mencekam: Rp 140 Juta Raib Digasak Maling
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Lumajang Dini Hari