Andre sendiri punya alasan memilih rute ekstrem itu. Selain untuk menjangkau Matur, dia juga ingin memastikan akses ke wilayah Maninjau, Tanjung Raya, mengingat jalur utama Padang-Bukittinggi via Lembah Anai dan Malalak masih terputus. “Keterbatasan akses bukan halangan bagi pemerintah untuk hadir,” tegasnya.
Kunjungan itu tak sekadar kata-kata. Sebanyak 3.000 paket sembako disalurkan langsung ke warga. Juga lima unit genset 6.000 watt untuk kebutuhan listrik darurat. Tak ketinggalan, toren air, mesin chainsaw, dan pompa air turut dibawa untuk membantu pembersihan dan kebutuhan dasar.
Bahkan untuk persoalan air bersih yang kritis, sudah ada solusi jangka pendek. Warga Kayu Pontong, Matur Mudik, akan segera mendapat pasokan air melalui hidran dari Direktorat Cipta Karya Kementerian PU. Sedikit banyak, ini diharapkan bisa meringankan beban sehari-hari.
Lebih jauh, Andre menegaskan komitmen serius pemerintah pusat. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pembenahan pascabencana di Sumbar akan jadi prioritas. Masyarakat diminta tak khawatir berlebihan. Semua kerusakan infrastruktur, mulai dari jalan, irigasi, hingga rumah ibadah, akan dibangun kembali lewat program rehabilitasi dan rekonstruksi.
Anggarannya tak main-main: sekitar Rp 13,52 triliun. Dana sebesar itu akan difokuskan untuk pemulihan infrastruktur dan kehidupan sosial-ekonomi warga. Menanggapi laporan kerusakan jalan provinsi dan kabupaten di Matur, Andre memastikan semuanya akan ditangani. Normalisasi sungai, pembangunan jembatan, perbaikan jalan itu semua tanggung jawab negara.
“Akan diurus secara menyeluruh,” pungkasnya. Tujuannya satu: agar aktivitas warga bisa kembali normal secepat mungkin.
Artikel Terkait
Puspom TNI Selidiki Ada atau Tidaknya Perintah di Balik Penyerangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS
Jadwal Buka Puasa di Jakarta dan Kepulauan Seribu Rabu 18 Maret 2026 Pukul 18.08
TNI Umumkan Empat Tersangka Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Tiga Berpangkat Perwira
Flick Waspadai Kecepatan Newcastle di Laga Penentu Barcelona