Serangan ini bukanlah yang pertama. Menurut laporan dari berbagai pemantau konflik, intensitas serangan udara junta justru kian meningkat dari tahun ke tahun. Semuanya berawal dari kudeta militer 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil, memicu perang saudara yang tak kunjung reda.
Di sisi lain, serangan terbaru ini terjadi di tengah situasi politik yang memanas. Junta telah menetapkan pemilu akan dimulai pada 28 Desember mendatang. Mereka menggembar-gemborkan pemungutan suara sebagai solusi, sebuah jalan keluar dari konflik berkepanjangan.
Namun begitu, harapan itu tampaknya hanya ilusi. Di lapangan, kelompok-kelompok pemberontak bertekad bulat untuk menggagalkan proses pemungutan suara di wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Pertempuran pun semakin menjadi-jadi, dan korban sipil terus berjatuhan seperti yang terjadi di rumah sakit di Rakhine itu. Wilayah yang berbatasan dengan Bangladesh itu kembali menjadi saksi bisu sebuah tragedi kemanusiaan.
Artikel Terkait
Piton Raksasa Telan Petani di Kebun, Ayah Tebas Ular dengan Parang
Politiser Tertipu Rp 226 Juta, Perempuan 72 Tahun Dituntut 2 Tahun Bui
Iran Tegaskan Siap Perang, Tapi Pintu Negosiasi dengan AS Masih Terbuka
Golkar Buka Peluang Bahas Usulan PAN Hapus Ambang Batas Parlemen