Kedua, tentu saja, menjadi komunikator yang handal. Mereka bertugas menyampaikan aturan dan aspirasi dengan cara yang bisa diterima semua pihak. Tidak mudah, tapi itulah tantangannya.
Untuk itu, pelatihan mereka cukup ketat. Polwan-polwan ini dibekali kemampuan mempengaruhi dan membujuk. Yang tak kalah penting, mental mereka ditempa agar tak gampang menyerah baik oleh emosi sendiri, ancaman, maupun tekanan verbal dari kerumunan massa.
Modal lainnya? Wawasan luas dan pemahaman psikologi massa. Mereka juga diajari strategi komunikasi yang berbeda untuk tiap tipe pengunjuk rasa. Karakter yang mudah beradaptasi dan empati tinggi adalah nilai plus yang sangat dibutuhkan di lapangan.
Simulasi yang digelar saat Apel Kasatwil akhir November lalu memperlihatkan bagaimana polwan negosiator mengambil peran di garis depan. Mereka yang pertama kali mendekati dan membuka dialog. Praktiknya, memang tidak semudah teori. Namun, kehadiran mereka sering kali mengubah dinamika.
Artikel Terkait
Dude Herlino Bisa Dipanggil Penyidik Terkait Dugaan Penipuan DSI
Kerangka Hangus di Lombok Barat: Botol Bahan Bakar dan Tali Nilon Jadi Kunci Misteri
Wali Kota Serang Laporkan Media, Dewan Pers Jadi Bahan Perdebatan
Kapal Terbakar di Perairan Penjaringan, 85 Personel Dikerahkan