Harapannya sebenarnya sederhana. Perilaku anti-korupsi harus lahir dari dalam diri, bukan karena terpaksa melihat plang peringatan. Itu harus jadi bagian dari sanubari.
"Makanya, mungkin PANRB perlu merumuskan ulang istilah WBK ini. Ya, anggap saja sebagai pengingat, sebuah simbol. Tapi yang lebih penting, nilai-nilainya harus meresap dalam kalbu. Orang tidak korupsi karena memang sudah jadi pribadi yang baik, bukan karena ada tulisannya," sebut Setyo.
Di sisi lain, dia punya harapan lebih jauh. Suatu saat nanti, simbol-simbol seperti WBK itu semoga tak lagi diperlukan.
"Iya, sekali lagi, ini cuma simbol. Tapi simbol tertulis yang ada di beberapa tempat, fungsinya cuma untuk menggugah dan mengingatkan. Saya harap, di masa depan, kita enggak butuh lagi simbol kayak gini," pungkasnya.
Acara hari itu sendiri ramai dihadiri sejumlah pejabat. Tercatat hadir Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Agama Nasaruddin Umar, hingga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno juga terlihat hadir, bersama sejumlah menteri lainnya seperti Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Menteri Transmigrasi.
Artikel Terkait
Beruang Kutub Makin Gemuk, 11 Penipu Dieksekusi, dan Pesawat Jatuh di Kolombia
Perawat India dan Dilema Jerman: Antara Kebutuhan dan Birokrasi yang Berbelit
Jaksel Terendam Lagi, Warga Rawajati Dievakuasi dari Genangan 1,5 Meter
Banten Tutup Keran Pemutihan Pajak Kendaraan, Beralih ke Hadiah untuk Warga Taat