Namun begitu, Agus menilai masalah ini bukanlah hal yang tiba-tiba muncul. Ia menarik benang merah jauh ke belakang, tepatnya sejak berakhirnya Perang Jawa pada 1830. Saat itulah, bangsa Indonesia secara sistematis mulai diarahkan untuk meninggalkan jati dirinya.
"Kita disetel untuk menjadi seperti orang Barat. Yang dibicarakan hanya soal hak individual, sementara norma kolektif dan semangat kebangsaan justru dilupakan," paparnya.
Maka, jalan keluarnya pun harus radikal. Agus menekankan, penting sekali untuk merebut kembali hak-hak rakyat. Tujuan bernegara sesuai Preambule dan Pasal 33 UUD 1945 harus ditegakkan kembali. Ia dengan keras menolak liberalisme ekonomi yang dianggapnya tak cocok dengan kepribadian bangsa.
"Pembangunan harus dibangun dari bawah. Negara wajib hadir untuk melindungi rakyat, bukan melayani kepentingan segelintir elit," ucap Agus.
Lebih jauh, ia menyerukan harmoni dengan lingkungan dan budaya. Penguatan toleransi antarumat beragama juga disebutnya sebagai fondasi penting menuju masyarakat yang adil dan makmur.
"Inilah saatnya kita kembali pada jati diri bangsa Indonesia," pungkas Agus, menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Siswa SRMA 1 Aceh Besar Bagikan Takjil dan Pererat Silaturahmi di Ramadan
Adira Finance Salurkan Rp8 Triliun Pembiayaan Baru hingga Februari 2026
Jadwal Buka Puasa Jakarta dan Kepulauan Seribu 17 Maret 2026
PAM JAYA Dukung Mudik Gratis DKI, 15 Bus Antar Ribuan Warga ke Kampung Halaman