Rumah-rumah hanyut, jembatan putus, warga berlarian menyelamatkan diri. Video-video itu membanjiri linimasa kita beberapa pekan terakhir, mengabarkan duka Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang diterjang banjir bandang dan longsor. Bencana demi bencana seolah datang bertubi-tubi, dan banyak orang mulai bertanya: kenapa ini makin sering terjadi, dan makin sulit ditebak?
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah kalimat dari Guy McPherson ramai dibagikan ulang. Sederhana, tapi menusuk.
“Jika kamu berpikir ekonomi lebih penting daripada lingkungan, cobalah menahan napas sambil menghitung uang.”
Kutipan itu, bagi saya, menyentuh akar persoalan. Selama ini kita kerap memisahkan, bahkan mempertentangkan, urusan lingkungan dengan pembangunan ekonomi. Padahal, coba kita lihat fakta di lapangan. Banjir di Sumatra tidak cuma merusak rumah. Pasar lumpuh, distribusi pangan terhenti, roda ekonomi daerah macet total.
Pedagang tak bisa jualan. Petani merugi karena tanamannya hanyut. Nelayan tak melaut karena air keruh dan dermaga rusak. Jelas sekali: ketika alam sakit, ekonomi ikut ambruk.
Lalu, apa yang bikin alam ‘sakit’? Salah satu faktornya, tutupan pohon kita yang terus menyusut. Sejak 2001 hingga tahun ini, lima provinsi utama kehilangan lebih dari 19 juta hektar hutan. Angka yang fantastis, dan dampaknya langsung kita rasakan sekarang. Hutan yang hilang berarti tanah kehilangan daya serap. Air hujan langsung meluncur deras ke sungai, banjir pun tak terelakkan. Ongkosnya? Ya, kita yang bayar, lewat anggaran penanggulangan bencana yang membengkak.
Namun begitu, saya rasa kita tak perlu larut dalam pesimisme. Justru momentum inilah saatnya kita membalik cara pandang. Lingkungan bukan penghambat, melainkan fondasi. Negara dengan lingkungan terjaga terbukti lebih stabil ekonominya, lebih tahan goncangan.
Di beberapa tempat, kita sudah punya contoh nyata. Ambil contoh komunitas adat di Aceh. Mereka mengelola hutan dengan kearifan lokal, mengambil hasil tanpa merusak. Ekosistem tetap lestari, warga dapat penghasilan. Atau di Kalimantan, gerakan agroforestri mulai tumbuh. Petani menanam pohon di antara lahan pangan, sehingga tanah pulih, banjir berkurang, dan pendapatan justru naik. Model-model seperti ini perlu kita dukung dan replikasi.
Di sisi lain, ada angin segar dari pemerintah daerah. Beberapa kepala daerah kini lebih ketat mengawasi izin usaha dan menata ulang tata ruang. Ini sinyal bagus. Kesadaran bahwa pembangunan harus ramah lingkungan pelan-pelan menguat.
Peluang besar lainnya ada di ekonomi hijau. Ini bukan lagi wacana, tapi kebutuhan. Ekowisata, pertanian organik, transisi energi, hingga perdagangan karbon semua ini sektor masa depan. Hutan yang sehat punya nilai karbon tinggi. Sungai yang bersih bisa jadi destinasi wisata. Udara bersih malah akan menarik investasi dan talenta terbaik.
Yang menggembirakan, modal sosial kita kuat. Generasi muda sekarang sangat aktif. Mereka berkampanye di media sosial, edukasi ke publik, turun langsung menanam pohon. Bagi mereka, isu lingkungan adalah bagian dari identitas. Energi positif ini harus disalurkan dengan baik, diberi ruang partisipasi yang lebih luas.
Jadi, kutipan McPherson tadi bukan sekadar sindiran. Ia undangan untuk merenung. Logika alam tak peduli dengan angka pertumbuhan ekonomi atau besaran APBD. Tanah longsor, banjir bandang, udara tercemar semua itu tak bisa dinegosiasikan di rapat anggaran.
Kita harus mulai melihat lingkungan sebagai penyelamat. Menjaga hutan sama dengan menjaga pasokan air untuk pertanian dan industri. Merawat sungai berarti menjamin pangan dan kesehatan masyarakat. Semua bermuara pada satu hal: tanpa lingkungan yang sehat, mustahil ekonomi bisa bertahan, apalagi tumbuh.
Indonesia sebenarnya punya semua modal. Hutan tropis terbesar ketiga di dunia, keanekaragaman hayati luar biasa, dan semangat gotong royong yang masih kental. Yang kita perlukan sekarang adalah keberanian untuk mengubah haluan. Letakkan lingkungan sebagai fondasi, bukan pelengkap.
Percayalah, ketika lingkungan dipulihkan, ekonomi akan mengikut. Dan masyarakat pun akan lebih sejahtera. Bencana yang hari ini viral, semoga bisa menjadi titik balik. Kita pernah tersandung, lalu bangkit dengan cara yang lebih bijak.
Karena pada akhirnya, lingkungan bukan musuh ekonomi. Ia adalah nafas yang membuat ekonomi itu hidup.
Andi Setyo Pambudi. Alumni Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dan saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral untuk program studi Manajemen Berkelanjutan di Perbanas Institute.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi