Salah satu titik yang pengerjaannya digenjot adalah Jembatan Teupin Mane. Di sana, terlihat progres penimbunan oprit, pembuatan cofferdam untuk mengalihkan aliran sungai, serta perakitan komponen bailey. Semua dikerjakan dengan bantuan sejumlah alat berat seperti excavator dan dump truck.
Namun begitu, masalahnya tak cuma soal jalan dan jembatan. Infrastruktur air minum dan permukiman juga rusak cukup parah. Ada 20 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di 10 kabupaten/kota yang terdampak, termasuk satu Instalasi Pengolahan Air di Kota Langsa.
“Infrastruktur sanitasi berbasis masyarakat seperti Sanimas, TPS3R, serta fasilitas PISEW juga mengalami kerusakan,” jelas Dody.
Demi mempercepat penanganan, alat berat dan logistik terus dikerahkan. Jumlahnya tak sedikit: 41 excavator, 25 dump truck, ditambah tenda, perlengkapan sanitasi, dan bantuan dasar bagi pengungsi.
Dody memastikan semua penanganan ini dilakukan setahap demi setahap. Tujuannya agar seluruh fungsi pelayanan publik bisa kembali normal.
“Kami tidak hanya memulihkan konektivitas, tetapi juga layanan dasar seperti air bersih dan fasilitas permukiman. Masyarakat Aceh harus segera kembali pada aktivitas yang aman dan produktif,” tuturnya.
Ia menutup pernyataannya dengan komitmen koordinasi. “Kementerian PU akan terus berkoordinasi erat dengan Pemerintah Daerah dan BNPB hingga tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi. Agar pemulihan berjalan tuntas serta lebih tangguh terhadap bencana di masa mendatang.”
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Bupati Rejang Lebong Tersangka Suap, Sita Uang Rp 757 Juta
DPRD DKI Bentuk Pansus Khusus Evaluasi Sistem Sampah Usai Longsor Bantargebang
DPR Akan Sahkan RUU PPRT dan Hak Cipta sebagai Usul Inisiatif Besok
Anggota DPR Soroti Dampak Mahalnya Tiket Pesawat pada Kesehatan dan Pendidikan